Polisi Kita Dan Pelecehan Azas Praduga Tak Bersalah

Rabu, 06 Maret 2019, 12:40 WIB | Oleh: Ilham Bintang

Lambang Polri/Net

SELURUH foto-foto menyangkut penangkapan Andi Arief yang beredar Minggu (4/3) siang di medsos dan group- group WAG, sebenarnya mudah ditebak sumbernya.

Cuma satu: polisi. Sekurangnya, polisi tahu itu. Mustahil ada pihak lain yang membuat foto selain polisi dalam suatu operasi tangkap tangan di dalam sebuah kamar hotek. Apalagi ini kasus narkoba yang melibatkan tokoh elit partai politik.

Foto-foto yang beredar kadarnya semua barang bukti yang dibutuhkan di persidangan. Mulai dari bong (alat pengisap sabu), bungkus rokok, asbak, pocari sweat, dan closet yang dibongkar.

Ada juga perempuan muda dan cantik. Berinitial L. Ada yang menyebut dia seorang artis. Ini yang semakin menambah drama penangkapan Andi Arief. Tidak heran jika menjadi sorotan publik.

Pengakuan Kabareskrim

Pada awalnya wartawan tentu tidak begitu saja percaya rangkaian foto yang diterimanya. Apalagi, nyelonong begitu saja masuk di ponselnya. Tanpa permisi. Tanpa jelas sumbernya. Tapi mengabaikan begitu saja foto itu, bukan watak wartawan.

Maka sesuai kaidah, mereka segera melakukan verifikasi ke berbagai sumber. Sebelum itu disiarkan di media masing-masing. Diperkuat pula oleh sumber kompeten: Kabareskrim Idham Azis.

Bisa dilihat jejak digitalnya dari berita detik.com. Minggu (4/3) siang. “Kabareskrim Idham Azis membenarkan penangkapan Andi Arief, termasuk foto-foto yang beredar,” tulis detik.com.

Namun, hari itu juga, satu-per satu fakta itu dibantah oleh polisi sendiri. Kadiv Humas Mabes Polri, M Iqbal hanya mengakui penangkapan Wakil Sekjen Partai Demokrat itu.

Ia bilang, tidak ada perempuan dalam penangkapan. Tidak ada sabu. Rangkaian foto yang disebut di atas ia sangkal. Tidak tahu menahu. Intinya  bukan dari polisi.

Itu disampaikan dalam forum resmi konfrensi pers. Wartawan juga memberitakan keterangan itu. Tetapi bukan berarti setelah itu diam.

Namanya juga wartawan. Dia pakai nalarnya. Apalagi yang dibantah Iqbal hanya sumber foto. Bukan substansinya. Maksudnya fakta dalam foto itu.  Ada apa dengan polisi? Iqbal malah menyalahkan  pers, yang dia dituduh menyebarkan rangkaian foto-foto yang terkait penangkapan Andi Arief.

Pernyataan sama dinyatakan oleh Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Rachland Nasidik, di forum ILC-TVone, Selasa (5/3) malam.

Berulang-ulang ia menyesalkan pers. Ia malah kebablasan menuduh pers melanggar kode etik, tanpa menyebut secara spesifik media mana yang dia maksud.

Entah dapat wangsit dari mana petinggi partai ini. Seolah kalau tidak  bersumber dari polisi, informasi apapun tidak valid. Padahal, pers sudah lakukan verifikasi sebelum itu disiarkan. Verifikasi kepada sumber yang berwenang dan sumber ini. Host ILC, Karni Ilyas sampai berulang-ulang mengingatkan itu.

Saya mengikuti pemberitaan penangkapan Andi Arief bukan di Tanah Air, tapi di Australia. Tepatnya di Melbourne. Tapi, sejak berita itu pecah, juga diposting di WAG Forum Pemred Minggu (4/3) siang yang saya ikuti, praktis kontak saya dengan redaksi di Jakarta intens dilakukan. Saya meminta Farid Ridwan Iskandar, pemred Cnr.com mengikuti perkembangan kasus Andi Arief.

Terus terang saya sudah lama terganggu oleh cara polisi memperlakukan “tangkapannya” tiada rasa hormat pada azas praduga tak bersalah pada orang diduganya melakukan tindak pidana.

Foto Andi Arief di dalam tahanan menyebar kemana-mana sebelum ada penjelasan mengenai kasus yang dihadapinya. Tidak sadar itu potensil membunuh karakter seseorang yang seharusnya dilindungi oleh penegak hukum.

Setelah itu polisi mengumumkan Andi Arief hanya korban penyalahgunaan narkotika. Statusnya pemakai, berhak atas rehabilitasi. Namun, kenapa yang bersangkutan di dalam sel? Fotonya disebar luas apakah dimaksudkan supaya masyarakat yang “menghukumnya”?

Soal wanita berinisial L, tidak kurang serunya. Awal keterangan polisi, disebutkan L satu kamar dengan Andi Arief saat penggerebekan polisi. Beberapa saat kemudian ketika hendak didalami wartawan, Iqbal membantah. Tidak ada perempuan, katanya. Tapi belum masuk Maghrib, Igbal konferensi pers lagi. Akhirnya, ia mengakui ada perempuan.

Siapa perempuan itu, tidak diuraikan. Yang jelas, bukan orang yang di dalam foto. Saat L ini menjadi sorotan publik, seorang wanita bernama Livy Andriani meradang. Ia artis FTV yang sekarang menjadi Caleg Partai Nasdem. Livy mengancam akan memperkarakan siapapun yang mengaitkan dirinya dengan wanita L, kawan sekamar Andi Arief.

Indonesia Police Watch ( IPW) minta polisi menyingkap siapa wanita L itu. Namun polisi tak  hirau. Mestinya Livy Andriani mendesak juga polisi, bukan mengultimatum pers. Selama L tak diungkap, keadaan itu niscaya akan merugikan diri caleg Nasdem itu.

Ada catatan redaksi yang menunjukkan bukan sekali ini  polisi mengabaikan azas praduga tak bersalah. Menyebarkan foto-foto tangkapannya.

Masih lekat dalam ingatan kasus penggerebekan rumah artis Tora Sudiro. Polres Metro Jakarta Selatan menangkap Tora Sudiro terkait dengan kepemilikan Dumolid di Bali View di Tangerang Selatan, Kamis, 3 Agustus 2017. Polisi juga mengamankan istri Tora, Mieke Amalia. Polisi menyita barang bukti berupa 30 butir Dumolid.

Tak lama setelah penggerebekan, muncul foto-foto Tora sedang diperiksa di rumahnya. Polisi bahkan sempat berpose bersama barang bukti.

Lebih dahulu foto-foto penggerebekan menyebar luas ke publik. Penaggebekan subuh. Hasil  operasinya disampaikan polisi kepada pers siang.

Waktu itu polisi juga menyangkal sebagai sumber dari foto- foto yang dimuat oleh media pers. Akibatnya, Tora Sudiro dan keluarga babak belur hadapi sanksi sosial. Dia sendiri menjalani hukuman tidak berapa lama. Namun, sanksi soal jauh lebih membuat mereka menderita.

Novi Amalia

Suatu kali seorang model wanita, Novi Amalia ditangkap dalam keadaan mabuk. Mobilnya menabrak dua anggota polisi, 11 Oktober 2012 silam. Yang menghebohkan karena wanita itu mengendarai mobil hanya mengenakan BH dan celana dalam. Cerita lebih menghebohkan, ternyata foto-foto wanita itu menyebar di media sosial. Setting foto itu ketika Novi berada di ruang pemeriksaan polisi .

Yang juga mencengangkan, beredarnya foto Firza Husein, tersangka kasus chit-chat mesum dengan Habib Riziek. Foto itu beredar luas saat Firza menjalani penahanan di Mako Brimob Kepala Dua, sekitar Februari 2017. Tidak mungkin Firda membuat foto selfie. Bukankah semua alat komunikasinya disita polisi, dan waktu itu tidak boleh dibesoek.

Vanessa Angel


Ada juga catatan redaksi yang membandingkan Vanessa Angel dengan wanita L, kawan sekamar Andi Arief. Vanessa habis-habisan dipublish oleh polisi. Sementaran kasusnya  tak pernah jelas. Apakah ia melanggar hukum karena kedapatan sekamar dengan pria yang bukan suaminya? Atau dia, seperti sering disebut polisi : pelanggarannya karena menjadi pelaku prostitusi online? Dia diduga melanggar UU ITE. Tapi Vanessa harus ditahan untuk pelanggaran yang hukumannya maksimal 4 tahun?

Tidak cuma itu. Sampai hari ini identitas pria hidung belang yang booking  Vanessa, tak pernah diungkap polisi seterang benderan Vanessa.  Nama hotel saja, yang menjadi locus kejadian, tak pernah disebutkan oleh polisi.

Bandingkanlah dengan wanita berinitial L yang digerebek bersama Arief di dalam kamar Hotel Peninsula. Identitasnya disembunyikan rapat-rapat, seperti R, pria yang disebut membooking Vanessa Angel.

Tanya polisi. Pasti Anda akan mendapat jawaban gonta-ganti. Diumumkan. Dibantah. Lalu diralat sendiri oleh yang bersangkutan. Ini yang bikin gaduh. Ada apa dengan polisi kita?  Terulang lagi kerja polisi yang rame ing media tapi sepi ing gawe professional.

Penulis adalah wartawan senior

Kolom Komentar