Dalam sejumlah hasil survei, tingkat keterpilihan Prabowo jauh berada di bawah rivalnya, petahana Presiden Joko Widodo. Di survei Median, elektabilitas Jokowi 36,2 persen, sementara Prabowo 20,4 persen. Sedangan hasil survei Cyrus Network, Jokowi 58,5 persen dan Prabowo 21,8 persen.
Sementara hasil pertanyaan terbuka yang dirilis Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai KOPI) elektabilitas Jokowi 35,1 dan Prabowo 12,0 persen.
Jarak elektabilitas yang jauh antar keduanya kembali tergambar dalam hasil survei teranyar
Litbang Kompas. Dalam survei ini, Jokowi mendapat elektabilitas 55,9 persen dan Prabowo 14,1 persen.
Pengamat politik UI Ari Junaedi menilai hasil survei itu hendaknya dijadikan acuan untuk tidak lagi memaksakan nama Prabowo sebagai capres.
"Masak harus terus dipaksakan maju? Ibarat produk, konsumen di pasar pilpres sudah pada titik jenuh dengan produk yang bernama Prabowo. Untuk menyelamatkan marwah Gerindra dan nama besar Prabowo Subianto sendiri, harusnya ada nama lain yang bisa dijadikan alternatif untuk menghadapi Jokowi," ujar Ari kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (25/4).
Menurutnya, Prabowo dan Gerindra akan mendapat bonus manfaat jika menjadi "endoser" sosok lain untuk maju di Pilpres 2019.
Apalagi jika berkaca pada pengalaman di DKI. Saat itu Prabowo dan Gerindra berhasil memunculkan sosok Anies Baswedan dan memenangkan pertarungan melawan petahana.
"Jika Prabowo kembali menjadi king maker, namanya akan tetap dikenang. Ini lebih baik daripada diingat sebagai capres abadi," tutupnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: