Sikap demikian, menurut Ahok, menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di sejumlah wilayah DKI Jakarta.
Ahok menjelaskan, dulu Belanda mengharuskan pintu air di aliran tengah Jakarta ditutup untuk melindungi kawasan elit Jakarta dari ancaman banjir.
"Jadi Belanda ngamanin Menteng, ngamanin area ini (Jalan Medan Merdeka), tapi rakyat dikorbanin," terang Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (2/3).
Bahkan, Ahok mengatakan ada aksi sabotase pada peristiwa banjir tahun 2013. Sebab, ketika pintu air di aliran tengah ditutup dan semua beban debit air dari hulu sungai Ciliwung dibebankan ke aliran barat, maka tanggul Latuharhari pun jebol.
"Padahal saya sudah suruh buka dari tahun 2014, jangan pernah ditutup, tahun 2015 juga jangan pernah ditutup. Kalau ada banjir berarti dia tutup lagi sekarang. Sekarang alasannya protap Belanda. Emang Belanda negara lu sekarang," sesalnya.
Padahal, Ahok menambahkan, saat ini sudah ada waduk Pluit sehingga jangan disamakan dengan zaman Belanda. Ketika waduk Pluit ada dan efektif menampung air dalam debit besar dari hulu sungai Ciliwing, kata Ahok, sudah saatnya aliran air dibagi merata ke 1.086 saluran yang ada di Jakarta.
"Dulu kalau menurut saya, saya juga enggak tahu benar enggak teori saya, Belanda nutupin pintu Manggarai mungkin dia mau ngangkut pasir batu kayu dari Bogor, Depok, Pasar Minggu ke Jakarta pakai transportasi air, makanya dia bilang enggak boleh dibuka," imbuhnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: