Giwo menyatakan, isu gender dan anak merupakan masalah utama dalam pembangunan, khususnya pembangunan sumber daya manusia. Walaupun sudah banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak serta yang berkaitan dengan gender dan anak, namun data menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam hal akses, partisipasi, manfaat serta penguasaan terhadap sumber daya seperti pada bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan bidang strategis lainnya.
Perlindungan bagi perempuan dan anak dari berbagai tindakan eksploitasi, diskriminasi dan kekerasan juga masih belum optimal, sehingga pelayanan dan penanganan kepada perempuan dan anak sebagai kelompok rentan dan "korban terbesar" akibat kekerasan juga masih relatif rendah.
"Dampak dari pelaksanaan pembangunan yang belum mempertimbangkan kesetaraan, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, akan memperlambat proses pembangunan suatu bangsa," ungkap Giwo dalam paparannya.
Menurut Giwo, bahwa sejarah lahirnya Kowad diilhami oleh hasil perjuangan para pahlawan wanita Indonesia yang ikut serta menegakkan kemerdekaan Indonesia dan usaha para pendahulu untuk meraih kemajuan bagi kualitas hidup kaum wanita. Kongres Wanita Indonesia (Kowani) turut mempertimbangkan, mendukung pemikiran pembentukan Kowad.
Tambah dia, Kowad memiliki kompetensi untuk mencerminkan watak seorang kesatria dan memancarkan keanggunan seorang wanita. Kowani yang menginspirasikan wanita sebagai "Ibu Bangsa" yang berpengaruh langsung terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa dengan melahirkan putra putri sebagai generasi penerus, oleh karena itu pengembangan diri melalui peningkatan sumber daya manusia sangat penting. Kowad sebagai bagian dari "Ibu Bangsa" harus tampil dengan kepribadian wanita Indonesia sejati yakni bertata susila, setia, loyal serta memiliki etos kerja yang tinggi.
"Walaupun sebagai prajurit wanita, Kowad dituntut sebagai prajurit profesional sesuai jabatan dalam bidang tugasnya. Kesetaraan gender antara prajurit wanita dan prajurit pria untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan hukum, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, pertahanan dan keamanan serta bagaimana dalam menikmati hasil pembangunan," demikian Giwo Rubianto Wiyogo.
[rus]
BERITA TERKAIT: