Kisah Menegangkan Rizal Ramli Dan Hariman Siregar Di Negeri Paman Sam

Senin, 11 Januari 2016, 22:45 WIB
Kisah Menegangkan Rizal Ramli Dan Hariman Siregar Di Negeri Paman Sam
net
rmol news logo Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli dan tokoh pergerakan senior Hariman Siregar sudah berteman baik sejak lama. Bahkan, ketika Rizal menimba ilmu di Boston, Amerika Serikat, keduanya menyempatkan diri untuk melancong bersama.

"Dia mengajak saya melancong. Jalan-jalan ke New York dan Washington," kenang Rizal.

Menurut Rizal, sahabatnya itu memilih naik kereta malam dari Boston agar tiba di New York pukul 03.00 pagi.

"Keluar dari stasiun, kami tiba di daerah Hell's Kitchen. Memang dapur neraka, saking banyaknya pembunuhan di tempat ini. Orang baru keluar dari kereta bisa di-dor di sini. Sekarang sih, sudah aman. Waktu itu benar-benar dapur neraka," jelas Rizal.

Hell's Kitchen sendiri merupakan satu kawasan di Manhattan, New York. Berada di antara Jalan 34 dan 57 dari 8th Avenue ke Sungai Hudson. Wilayah yang dulunya dikuasai gangster Amerika keturunan Irlandia.

Perut lapar membawa dua legenda pergerakan mahasiswa di Indonesia itu memasuki salah satu restoran. Sayangnya, di sana terjadi perkelahian lantaran ada pengunjung yang enggan membayar makanan.

Diceritakan Hariman, pengelola restoran yang berkulit hitam mengambil sebilah besi kemudian memukuli pengunjung tersebut.

"Gila, beneran itu!?" Hariman terkejut mengingat di luar restoran juga terjadi perkelahian.   

"Zal, kita cari tempat aman," ajak Hariman seraya menarik rekannya, seperti dicuplik dari buku 'Hariman & Malari'.

"Baru itu saya melihat Hariman takut, biasanya dia berani saja," kata Rizal mengenang.

Kala itu, keduanya masih berusia di bawah 30 tahunan. Hariman yang mantan pimpinan Dewan Mahasiswa UI, lakon gerakan mahasiswa 1974 dan Rizal mantan pimpinan Dewan Mahasiswa ITB, lakon gerakan mahasiswa 1978 lalu menumpang kereta dari New York menuju Washington. Hari pun sudah gelap karena waktu menunjukkan pukul 19.00.

Saat asyik berjalan sambil bersenda gurau, keduanya tiba-tiba dihadang seseorang berperawakan besar, tinggi, dan berkulit hitam. Orang itu menodongkan pisau sambil meminta kamera yang dibawa Hariman di punggungnya.

"Hariman segera mematikan kameranya. Ia pikir ini sama saja dengan di Jakarta tapi ini rupanya serius. Akhirnya, kami kabur," tutur Rizal.

Sayangnya langkah seribu yang diambil Hariman dan Rizal sia-sia, lantaran orang itu justru berlari lebih cepat. Hariman kemudian membanting kameranya seraya berpikir lebih baik dirusak daripada diambil penjahat.

Makin naik pitam, sang penodong terus mengejar hingga keduanya berjumpa dan diselamatkan polisi.

"kamu itu sayang nyawa atau sayang kamera? Kalau dia minta kasih saja. Jangan sok jadi jagoan!" kata petugas polisi mengingatkan.

Meski dalam lindungan polisi, si penodong dan komplotannya terus memburu.  Akhirnya mereka diamankan polisi di kabin kamar tidur kereta.

"Hati-hati, kamu nanti bisa ditusuk," kata polisi tadi sambil mengingatkan agar pintu kabin dikunci.

Sepanjang perjalanan New York ke Washington baik Hariman maupun Rizal tidak bisa tidur, sebab para preman tadi marah dan dendam.

"Gila, gue jagoan di Jakarta bisa ngelanglang ngumpet di sini..." kata Hariman bergumam. [wah]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA