Hati-hati Pak JK, Indonesia Juga Bisa Jadi Target Serangan ISIS

Rabu, 18 November 2015, 09:53 WIB
Hati-hati Pak JK, Indonesia Juga Bisa Jadi Target Serangan ISIS
ilustrasi:net
rmol news logo Diperkirakan sekitar 500-700 warga negara Indonesia (WNI) anggota ISIS berada di Suriah. Tidak jelas berapa yang masih hidup, berapa yang sudah tewas dalam pertempuran, dan berapa yang sudah kembali ke Indonesia. Di luar itu, simpati­san ISIS yang berada di dalam negeri, diyakini lebih banyak jumlahnya. Nah, netizen berharap, Pemerintah melalui TNI dan Polri mewaspadai simpatisan ISIS di dalam negeri. Bukan tidak mungkin ada yang terinspirasi serangan Paris.

Wakil Presiden Jusuf Kalla me­nyatakan, Indonesia berpeluang kecil diserang kelompok teroris ISIS atau Deash.

JK, sapaan Jusuf Kalla, mengatakan itu saat berada di Aceh, Minggu (15/11), menanggapi serangan teroris ke sejumlah lokasi di Paris, Prancis, yang menewaskan 129 orang, Jumat (13/11) malam waktu setempat.

Menurut JK, Indonesia berpelu­ang kecil diserang ISIS karena tidak ikut memerangi kelompok teroris itu di Irak dan Suriah.

"Serangan di Paris ini efek ISIS, yang arahnya lebih ke Utara, dan juga akibat keterlibatan negara-negara Barat menyerang ISIS. Jadi ISIS lebih banyak membalas dan Indonesia kan tidak ikut terlibat di situ," kata JK.

Meskipun begitu, JK mengakui, ada kemungkinan kecil kelompok itu menyerang Indonesia.

"Walaupun ada kemungkinan, risiko itu tidak sebesar risiko negara-negara Barat itu. Serangan teroris seperti di Paris itu bisa terjadi di mana pun negara di dunia ini. Karena itu kita harus tingkatkan kewas­padaan," jelasnya.

Pernyataan JKyang diberita­kan sejumlah media itu menda­pat respons netizen. Politisi PDIP Budiman Sudjatmiko, melalui akun @budimandjatmiko menulis, "Hati-hati @Pak_JK."

Netizen lain berharap, pemerin­tah, Polri dan TNImeningkatkan keamanan dan pertahanan, agar masyarakat tidak khawatir serangan terhadap Paris terjadi di kota-kota di Indonesia.

"Jangan sombong. Lebih baik waspada," cuit pemilik akun @aditya_delta.

Akun @Oralali_yo berharap prediksi JKbenar. "Yaaaa.... Mudah-mudahan saja tidak," doanya.

Netizen lain mengingatkan Pemerintah, TNIdan Polri, tidak anggap remeh ancaman ISIS. Apalagi sejauh ini diketahui ada ratusan WNIpergi ke Suriah un­tuk berperang bersama kelompok teroris itu.

Bahkan, pejabat di Batam, yaitu Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PSTP) dan Investasi BP Batam, Dwi Djoko Wiwoho, dinyatakan sudah bergabung bersama Daesh di Suriah.

"Apakah simpatisan ISIS tidak ada di Indonesia? Yang diwaspadai bukan yang dari luar, tetapi yang dari dalam negeri," kata akun @kalengrombeng.

Akun @Danny memperkirakan, jika Indonesia menjadi target serangan ISIS seperi yang terjadi di beberapa negara, maka kemungkinan besar target serangan berkaitan dengan negara Barat.

"Di Indonesia yang mungkin diserang adalah icon Barat, seperti kedutaan atau hotel dan bar milik orang Barat," cuitnya.

Akun @Syahri berharap, pernyataan JKbukan berarti meremehkan ancaman serangan ISIS di Indonesia.

"Pak JK, memang Indonesia tidak ada urusan dengan ISIS. Tapi bukan berarti nggak ada alasan ba­las dendam ISIS tidak menjadikan Indonesia targetnya," katanya.

Akun @istighfar313 meyakini ISIS tidak berani masuk Indonesia. Dia beralasan, kelompok teroris itu tidak sanggup menghadapi kekuatan TNI.

"Mana berani tuh ISIS datang ke sini. Indonesia saja menang lomba tembak bro. Baru mau datang sudah ditembak," kicaunya.

Akun @AbdAzizah berpendapat, pernyataan JK bukan bentuk kes­ombongan.

"Itu mah bukan sok tahu atau tak­abur bro. Tapi menenangkan masyarakat Indonesia. Biar nggak gaduh aja," cuitnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arrmanantha Nassir mengaku belum mendapatkan in­formasi pasti mengenai jumlah WNI yang telah bergabung ISIS. Namun, berdasarkan informasi yang didapat Kemlu, angkanya mencapai ratusan.

"Berdasarkan informasi yang kami terima dari Polri, Densus 88 dan BIN, sekitar 500 sampai 700 WNI telah bergabung dengan ISIS," kata diplomat yang kerap disapa Tata itu.

Tata juga mengatakan, Indonesia tidak mencabut kewarganegaraan WNI yang telah bergabung dengan ISIS, selama WNI itu belum mendeklarasikan diri bahwa dirinya bukanlah lagi warga Indonesia.

"Selama dia tidak menyatakan pindah kewarganegaraan dan masih memegang paspor Indonesia aktif, maka dia tetap dianggap WNI," sambungnya.

Pernyataan Tata tersebut meru­juk pada Undang Undang Nomor 12 Tahun 2006 Pasal 23 huruf a dan e, yang berbunyi, WNI kehilangan kewarganegaraannya jika yang bersangkutan memper­oleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri atau secara sukarela masuk dalam dinas negara asing. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA