"Pertarungan ini mempengaruhi Indonesia akibat adanya konflik Laut Cina Selatan (LCS) dan konflik kekuatan ekonomi USA vs China, di mana Indonesia saat ini tampaknya lebih dekat ke China," kata Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan, dalam keterangan beberapa saat lalu (Rabu, 11/11).
Menurut Syahganda, situasi ekonomi Indonesia mengalami tekanan eksternal berupa rendahnya harga komoditas dunia, sulitnya menarik investasi, rendahnya harga minyak bumi, dan tekanan mata uang dolar tehadap rupiah. Tekanan ini membuat rendahnya kemampuan pembiayaan rencana pembangunan.
Di tengah situasi ini, lanjut Syahganda,
leadership nasional tidak mampu mewujudkan janji-janji politik, sosial dan ekonomi yang disampaikan kepada rakyat, setelah setahun pemerintahan Jokowi-JK berlangsung. Janji tersebut ada yang bersifat ideologis, seperti keinginan membalikkan arah pembangunan nasional yang sebelumnya dikritik sebagai arah Neoliberal (2004-2014) ke arah Trisakti. Dan ada juga yang bersifat program, seperti swasembada beras, pembangunan infrastruktur, kemandirian energi, dan lain-lain.
"Adanya situasi politik di mana keterlibatan pemilik modal begitu tinggi dalam melakukan politik uang, sehingga elit politik tersandera untuk memuluskan kepentingan pemilik modal, bukan kepentingan rakyat dan konstitusi. Di saat yang sama, para pemilik modal telah menajuhakn demokarsi dari cita-cita untuk melahirkan kepemimpinan nasioanl yang berdaulat dab pro-rakyat jelata," jelas Syahganda.
Dengan dasar pemikiran di atas, Syahganda dan sejumlah tokoh membuat Gerakan Selamatkan NKRI. Gerakan ini misalnya diprakarasai oleh Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, Mayjen (Purn) Prijanto Soemantri, Bambang Wiwojo, Happy Trenggono, Bambang Sumarno, Ariady Achmad, Ramli Kamidin. M Hatta Taliwang, Dina Nurul Fitria, Wawat Kurniawan dan Samuel Lengkey.
Kamis besok (12/11), Gerakan Selamatkan NKRI akan menggelar curah pendapat di Restoran Raden Bahari, Buncit, Jakarta Selatan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: