Demikian informasi soal Shamsi Ali ketika
Harian Rakyat Merdeka, 20 Agustus lalu, pernah wawancara eksklusif dengannya.
Kembali ke Shamsi Ali dan Trump.
Shamsi menemui Trump ditemani Rabbi Yahudi Marc Scheneier dan Russel Simmons, seorang aktivis pembela kaum minoritas. Saat melihat Shamsi Ali, Donald Trump tertawa terpingkal-pingkal.
Rusell heran, lalu bertanya, kenapa? "I had never dreamt that I will meet a smiling Muslim" (Saya tidak pernah bermimpi untuk ketemu dengan seorang Muslim yang tersenyum). Begitulah jawab Trump. Shamsi saat itu agak tersinggung. "Saya yakin saya lebih sering tersenyum dari Donald Trump," kata Shamsi Ali, seperti ditulis di Facebook pribadinya, Juni 2014.
Shamsi Ali lalu menceritakan isi perjumpaan itu. Dia bertanya kepada Trump. "Dari mana gerangan Donald Trump berkesimpulan bahwa orang-orang Islam itu tidak tahu tersenyum?" Semua terdiam. Donald Trump serius menjawab: "Itulah yang selalu saya saksikan di televisi-televisi."
Kepada Trump, Shamsi mengatakan: "Mr Trump, sungguh sebelum saya datang ke kantor anda dan bertemu anda, saya ada kesimpulan negatif tentang anda. Sangkaan saya, Anda orang yang angkuh. Ternyata, Anda menyambut kami dengan senyuman dan bercanda, saya mendapati anda sebagai orang ramah. Kalau seandainya saya mengambil kesimpulan tentang orang besar seperti anda dari televisi atau media alangkah naifnya. Sungguh naifnya juga jika mengambil kesimpulan tentang 1,6 miliar manusia (Muslim) hanya dari televisi atau media."
Sejak saat itu, Trump tidak pernah lagi terdengar bicara yang menyudutkan Islam.
Shamsi mengatakan, jumlah muslim di Amerika saat ini sekitar 9 juta orang. Pasca 11 September, justru makin banyak orang Amerika masuk Islam. "Estimasinya sebesar 4 kali lipat," kata Shamsi Ali.
Orang Amerika bersifat terbuka dan rasa ingin tahunya amat tinggi. Karena itulah, pasca 11 September, banyak orang Amerika memburu dan membeli Al-Quran.
"Mereka ingin tahu informasi sebenarnya tentang Islam. Dan saat membaca Al-Quran, mereka justru menemukan Islam merupakan agama yang agung dan jauh dari apa yang mereka pikirkan selama ini," katanya.
[ysa]
BERITA TERKAIT: