Prof. Tono Saksono: Metode Imkan Rukyah Blunder Scientific

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Rabu, 15 Juli 2015, 01:19 WIB
Prof. Tono Saksono: Metode Imkan Rukyah Blunder Scientific
ilustrasi/net
rmol news logo Metode Imkan-Rukyat (visibilitas hilal) yang digunakan dalam penentuan awal bulan Dzulhijjah adalah sebuah blunder scientific. Bila awal bulan ditentukan dengan metode ini, maka umat Islam sampai kapanpun tidak akan punya kalender.

Demikikian disampaikan mantan Guru Besar Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) Prof. DR. Tono Saksono ketika berbicara di "Colloquim Astronom Indonesia dalam Penentuan Awal Bulan Qamariyah di Auditorium PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Selasa (14/7).

"Sebab awal tiap bulan harus dilihat," tegasnya.

Menurutnya, meskipun tidak kelihatan di Indonesia, hilal sebenarnya bertambah besar jika dilihat dari sisi lain dunia. Kasus awal Syawal 1436, ijtima itu terjadi pada jam 6.37 pagi tanggal 16 Juli.

"Ijtima dengan referensi Jakarta. Pada saat itu sudut iluminasinya hampir 2,2 persen dengan lebar hilal kira-kira 0,08 menit," katanya mencontohkan.

Dia menjelaskan hilal tumbuh 0,02 menit perjam. Meskipun tidak kelihatan hilal bertambah besar. Menurutnya, 4 jam setelah maghrib, tebal hilal di Jakarta sudah mencapai 0,17 menit.

"Pada detik yang sama di Dodoma, Tanzania adalah adalah jam 18.37 dan itu pas magrib. Hilal ketinggian 4,8 derajat, dan ketebalannya 0,13 menit," jelasnya.

Menurutnya adalah sebuah keanehan karena di Dodoma diakui sebagai hilal, padahal cuma 0,13 menit, tapi di Jakarta tidak diakui hilal karena terhalang oleh bola bumi.

Ia menganalogikan Dodoma-Jakarta dengan kedua bola mata manusia. "Mata kita yang satu ditutup, kita enggak akan bisa lihat bahwa itu tulisan hilal, tapi kita bilang itu bukan hilal. Ini kan tidak masuk akal, sangat tidak masuk akal, barangnya sama, detiknya sama, tapi yang satu bukan hilal yang satu hilal," paparnya.

Ia menambahkan, hilal tidak harus dilihat pada saat magrib di Jakarta karena bendanya sama dan detiknya sama dengan belahan dunia lain karena secara total sience dan teknologi dapat memperifikasi kehadiran hilal selama 23 jam 45 menit, dan windownya hanya 15 menit.

"Mana mungkin kegagalan yang hanya 1,04 persen yang 15 menit itu menganulir scientific efidens yang 98,9 persen. Ini sangat tidak masuk akal," tegasnya.

Karena itulah menurutnya, hal ini sangat berbahaya karena akan sangat merugikan masyarakat. Masyarakat butuh ketegasan dan pemerintah yang rasional.[dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA