Koordinator Gerakan Rakyat Anti Manipulasi BUMN, Andianto, mengatakan, bandara Soekarno Hatta hingga kini belum pernah melakukan penambahan daya. Penambahan daya terakhir dilakukan pada tahun 1984.
Namun, sejalan dengan keinginan melakukan penambahan, justru kejanggalan menyelimuti proyek pengadaannya.
"Akibatnya, blackout listrik Bandara bisa berdampak pada aliran listrik putus total dan kebakaran. Kemudian, hubungan antara pihak bandara dan pesawat yang akan mendarat dan akan terbang terputus," ujar Andianto dalam rilisnya, Senin (6/7).
Kata Andianto, hal itu akan mengancam keselamatan penerbangan, terutama nyawa penumpang karena jaringan listrik Bandara kurang memadai. Bisa saja nantinya antara pesawat satu dan lainnya bisa saling bertabrakan dan hangus terbakar.
Sebelumnya, Ketua Komisi VI DPR, Ahmad Hafisz Tohir, mengungkapkan pentingnya pengembangan kapasitas dan jaringan listrik bandara Soekarno Hatta. Keberadaan proyek tersebut memang harus ditingkatkan.
"Komisi VI setuju dalam rangka mengamankan airport yang punya security tinggi dan bahaya jika black out sering terjadi," ujarnya melalui pesan singkat.
Sementara, anggota Komisi VI lainnya, Lili Asdjudiredja, yang menyatakan, PT Angkasa Pura harus memperhatikan kualitas pemenang tender agar tidak terjadi kesalahan penunjukan. Apalagi ini menyangkut keselamatan banyak orang yang menggunakan transportasi udara.
[ald]
BERITA TERKAIT: