Kini, klub berjuluk
The Foxes itu membuat keputusan mengeÂjutkan dengan memecat Pearson karena dianggap tidak sejalan dengan perintah klub.
Alasan pemecatan tidak diÂjelaskan secara detail yang pasti masalah perbedaan pendapat yang tidak dapat ditolerir oleh Leicester. Namun dari rumors yang berkembang, keputusan ini nampak dilatar belakangi rentetan hal memuakkan yang dilakukan Pearson.
"Hari ini kami tidak akan lanjut berkomentar tentang siapa calon pengganti sebelum ada kesimpulan dari tim," katanya Vichai di situs resmi klub.
Musim 2014/15 sosok Nigel Pearson namanya tercatat dalam sejumlah kontroversi. Pada Desember 2014, dia didenda 10 ribu Poundsterling dan skorsing satu pertandingan karena protes saat tim dikalahkan Liverpool.
Februari lalu, Person terpergÂkok sedang mencengkeram leher gelandang James McArthur saat timnya kalah dari Crystal Palace.
Bulan berikutnya dia meÂnyebut jurnalis dengan sebutan 'Burung Unta' karena kesal denÂgan beberapa pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Untuk sementara tugas kepelatiÂhan pada tim utama
The Foxes diambil alih Craig Shakespeare dan Steve Walsh. Keduanya adaÂlah asisten terbaik dari Pearson selama masih menjadi manajer.
Keputusan yang dibuat Pemilik Leicester City, Vichai Srivaddhanaprabha ini sekilas dipandang arogan dan otoriter. Apalagi hal itu dilakukan saat Liga Primer Inggris sedang diÂpanaskan tentang bursa transfer yang terfokus hanya pada perÂgantian pemain.
Bagi tim yang berisi pemain minim bintang tentu prestasi manajer berusia 51 tahun ini yang mampu menghindarkan Leicester dari degradasi di Liga Inggris semestinya patut diacungi jempol.
Pearson menangani klub di King Power Stadium sejak November 2011. Lelaki kelahiran Nottingham itu membantu klub mendapat tiket promosi pada musim 2013/14 ke divisi terbaik.
The Midlands-julukan lain Leicester City mengalami kesulitan sepanjang musim lalu. Mereka terpaku di papan bawah klasemen, akibat kalah 18 kali dari 29 partai pertama di liga.
Namun, mereka mampu menuai tujuh kemenangan dari sembilan laga terakhir kompetisi, sehingga posisi mereka terangkat dari tiga terbawah dan menempati urutan ke-14 klasemen akhir.
Namun, pencapaian tersebut rupanya tidak cukup untuk mempertahankan posisi Pearson di jabatan manajer Leicester City. ***
BERITA TERKAIT: