Chuck Suryosumpeno, National Contact Point Camden Asset Recovery Interagency Network (CARIN) mengatakan kedepan para pelaku kejahatan akan menggunakan uangnya untuk membeli saham atau menyimpannya dalam bentuk virtual di negara-negara lain. Bentuk-bentuk ini tentu bukan pekerjaan mudah bagi penegak hukum untuk melacak maupun mendapatkan kembali aset yang dicuri.
"Di Eropa bahkan sedang menjadi tren para pelaku kejahatan menyimpan asetnya dalam bentuk air mani kuda balap yang harganya jutaan dolar. Sudah pasti proses pencariannya tentu akan tidak mudah lagi," katanya di Jakarta, Jumat (19/6).
Dalam rangka pemulihan aset, katanya, penegak hukum dituntut untuk memastikan pemulihan aset di tingkat nasional, antarnegara dan pemulihkan aset yang terlantar atau yang dikuasai pihak lain dapat berjalan secara efektif, efisien, transparan dan akuntabel. Kalau hal ini belum dilaksanakan, berarti pemulihan aset belum menjadi fokus utama para penegak hukum.
Karena itu, Chuck mengatakan dirinya bersedia memfasilitasi pemulihan aset melalui CARIN. CARIN merupakan organisasi informal yang terdiri dari para ahli dan praktisi pemulihan aset di seluruh dunia. Bermarkas di Belanda, CARIN didukung sepenuhnya oleh Europol.
Upaya pemulihan aset dalam lingkup nasional dan internasional, dikatakannya banyak kendalanya. "Salah satu kendala itu adalah sistem pemulihan aset yang belum terintegrasi. Maka diperlukannya Integrated Asset Recovery System atau Sistem Pemulihan Aset Terpadu," imbuhnya.
Dengan sistem terpadu ini, lanjutnya, semua pihak terkait dalam pemulihan aset harus duduk satu meja. "Persoalannya, kita memiliki banyak agency, lembaga penegak hukum yang punya kewenangan masing-masing dalam pemulihan aset, makanya kita bikin koordinasi, kita duduk satu meja, focus on asset, tentu yang lebih penting lagi adalah merubah mindset!" pungkasnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: