Dengan demikian, isi pidato Presiden Joko Widodo dalam puncak peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni lalu di Blitar yang mengatakan bahwa Bug Karno lahir Blitar, sudah benar.
Tidak tanggung-tanggung, Ridwan Saidi juga mengatakan, Sukarno berusaha kuat untuk menghilangkan Blitar dari sejarah hidupnya, dan dalam berbagai kesempatan mengatakan dirinya lahir di Surabaya. Hal ini dilakukan Sukarno karena kecewa pada kenyataan bahwa ayahnya, Raden Sukemi, adalah salah seorang agen Zionisme di Hindia Belanda pada masa itu, seperti yang ditulis sejarawan asal Inggris MC Ricklfes.
Ridwan Saidi mengaku dirinya tidak mengantongi bukti-bukti otentik seperti dokumen atau catatan resmi yang menyebutkan soal tempat kelahiran Bung Karno itu. Tetapi, dari bukti-bukti sosiologis yang dikajinya selama ini, dia berani menyimpulkan bahwa Bung Karno lahir di Blitar.
"Ada dua tempat kelahiran Ir. Sukarno atau Bung Karno, atau Kusno. Kelahiran biologis memang di Blitar, tetapi kelahiran historis di Surabaya," kata Ridwan Saidi.
"Bapaknya yaitu Raden Sukemi sering tidak ada di rumah. Sehingga Sukarno belajar tentang ketuhanan dari pembantu. Saat berusia delapan tahun Sukarno ke Surabaya memasuki HIS dan HBS," lanjutnya.
Di Surabaya, Sukarno mondok di rumah HOS Cokroaminoto yang dianggapnya sebagai guru ideologis.
"Sukarno juga mau menghilangkan kenangan pahit bahwa Bapaknya adalah satu dari 13 tokoh Zionis di Pulau Jawa," masih kata Ridwan Saidi.
Dalam episode kehidupan Sukarno selanjutnya, Sukarno muncul sebagai tokoh yang sangat anti Zionis. Misalnya, Sukarno membubarkan 26 organisasi Zionis yang berbentuk yayasan pada tahun 1960, serta mengambil risiko Asian Games bubar karena dia menolak mengundang Israel.
[dem]
BERITA TERKAIT: