Menurut mantan Presiden RI itu, di era pemerintahannya utang luar negeri Indonesia kepada IMF sudah dilunasi empat tahun lebih awal dari jadwal. Itu sebabnya, ketika menerima pimpinan IMF, kepala SBY bisa tegak.
Keputusan SBY mempercepat pelunasan utang IMF itu didasarkan pada tiga alasan penting. Pertama, karena ekonomi Indonesia sudah tumbuh relatif tinggi, sektor riil mulai bergerak, fiskal aman dan cadangan devisa cukup kuat.
Kedua, agar Indonesia tidak lagi didikte dan minta persetujuan kepada IMF dan negara-negara donor (CGI) dalam pengelolaan ekonomi, termasuk penyusunan APBN.
Ketiga, agar rakyat Indonesia tidak lagi dipermalukan dan merasa terhina, karena kita tidak lagi menjadi pasien IMF, yang berarti juga bebas dari trauma masa lalu.
"Sejak tahun 2007, saya (dulu sebagai Presiden) menerima kunjungan 3 pemimpin IMF dengan kepala tegak. Kehormatan Indonesia telah pulih," ujar SBY.
Bahkan, di tahun 2012, pemimpin IMF meminta Indonesia menaruh dana di IMF untuk membantu negara yang mengalami krisis.
"Tangan kita berada di atas," masih katanya.
SBY juga mengatakan, jika pernyataan Presiden Jokowi tersebut tidak dia koreksi, rakyat bisa menuduh dirinya yang berbohong.
"Kebenaran bagi saya mutlak," tegas SBY.
"Saya yakin, beliau yang waktu itu sudah bersama saya di pemerintahan (Walikota Surakarta) paham tentang kebijakan dan tindakan pemerintah," demikian SBY.
[dem]
BERITA TERKAIT: