Inilah Empat Kelemahan Penolak Revitalisasi Teluk Benoa

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Senin, 09 Maret 2015, 14:49 WIB
Inilah Empat Kelemahan Penolak Revitalisasi Teluk Benoa
ilustrasi/net
rmol news logo . Di balik penolakan yang begitu gencar terhadap Revitalisasi Teluk Benoa (RTB) melalui media massa, konser musik, pemasangan spanduk dan baliho, kelompok penolak RTB ternyata tak bisa memperlihatkan data dan kajian ilmiah terkait sikap penolakan mereka.

Demikian sebagaimana disampaikan Sekretaris Pengelola dan Penyelamat Lingkungan Hidup, Made Mangku, saat dihubungi wartawan, (Senin, 7/3).

"Ada empat kelemahan penolak RTB. Pertama, mereka tak punya argumen yang kuat. Kedua, tidak punya analisa ilmiah. Ketiga, tidak punya akses. Dan, keempat mereka tidak punya finansial cukup untuk melakukan kajian ini," kata Made Mangku yang juga pakar pesisir laut ini.

Selama dua tahun terakhir ini, krama Bali disuguhkan wacana pro dan kontra revitalisasi Teluk Benoa. Wacana ini hadir melalui media massa, melalui media sosial dan berbagai pesan diluar ruangan berupa spanduk dan baliho.

"Apa sih yang dipolemikkan. Mestinya kita punya jawaban dan solusi, jangan asal tolak begitu saja," ucapnya.

Menurutnya pro dan kontra hal yang wajar hanya saja mesti memperlihatkan argumentasi yang kuat dan kajian ilmiah.

"Selama ini kita tidak pernah melihat ada kajian ilmiah dari kelompok yang menolak. Ini kelemahan mereka yang sampai sekarang tidak bisa dipenuhi. Sedangkan yang mendukung punya kajian ilmiah termasuk mengantisipasi apa yang menjadi kekhawatiran masyarakat," kata Made Mangku.

Sementara itu, Ketua Yayasan Bumi Bali Bagus Komang Gde Subudi menyatakan pihaknya telah membaca kajian ilmiah dari empat universitas bahwa Teluk Benoa layak direvitalisasi.

"Konsep yang ditawarkan PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) sejalan dengan lingkungan dan sosial budaya. Kalau manfaatnya untuk kesejahteraan masyarakat Bali dan tidak merusak lingkungan kenapa mesti kita tolak," ujar Ketua Badan Pemantau Pembangunan dan Lingkungan Bali ini. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA