Demikian sebagaimana disampaikan Sekretaris Pengelola dan Penyelamat Lingkungan Hidup, Made Mangku, saat dihubungi wartawan, (Senin, 7/3).
"Ada empat kelemahan penolak RTB. Pertama, mereka tak punya argumen yang kuat. Kedua, tidak punya analisa ilmiah. Ketiga, tidak punya akses. Dan, keempat mereka tidak punya finansial cukup untuk melakukan kajian ini," kata Made Mangku yang juga pakar pesisir laut ini.
Selama dua tahun terakhir ini, krama Bali disuguhkan wacana pro dan kontra revitalisasi Teluk Benoa. Wacana ini hadir melalui media massa, melalui media sosial dan berbagai pesan diluar ruangan berupa spanduk dan baliho.
"Apa sih yang dipolemikkan. Mestinya kita punya jawaban dan solusi, jangan asal tolak begitu saja," ucapnya.
Menurutnya pro dan kontra hal yang wajar hanya saja mesti memperlihatkan argumentasi yang kuat dan kajian ilmiah.
"Selama ini kita tidak pernah melihat ada kajian ilmiah dari kelompok yang menolak. Ini kelemahan mereka yang sampai sekarang tidak bisa dipenuhi. Sedangkan yang mendukung punya kajian ilmiah termasuk mengantisipasi apa yang menjadi kekhawatiran masyarakat," kata Made Mangku.
Sementara itu, Ketua Yayasan Bumi Bali Bagus Komang Gde Subudi menyatakan pihaknya telah membaca kajian ilmiah dari empat universitas bahwa Teluk Benoa layak direvitalisasi.
"Konsep yang ditawarkan PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) sejalan dengan lingkungan dan sosial budaya. Kalau manfaatnya untuk kesejahteraan masyarakat Bali dan tidak merusak lingkungan kenapa mesti kita tolak," ujar Ketua Badan Pemantau Pembangunan dan Lingkungan Bali ini.
[ysa]
BERITA TERKAIT: