Aktivis Projo menilai partai baru harus lahir untuk mencegah terjadinya pemaksaan kehendak elit-elit parpol pengusung terhadap Presiden Jokowi. Sementara itu, PDIP sebagai partai pengusung Jokowi di Pilpres 2014 kemarin menganggap Jokowi tetaplah kader dan petugas partai sehingga tidak alasan untuk membentuk partai baru.
Pengamat komunikasi politik Ari Junaedi yang intens mengamati PDIP karena pernah lama berada di ring satu Megawati Soekarnoputeri ini menganggap ide pendirian partai Projo tidak terlepas dari kekecewaan para relawan Joko Widodo dalam melihat perkembangan politik akhir-akhir ini.
"Bisa jadi relawan Projo merasa gerah karena Jokowi terus diusik dan direcoki terutama intervensi PDIP dalam pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri dan intervensi Nasdem dalam pengangkatan Jaksa Agung dan kasus impor minyak Senonggol dari Nasdem," kata Ari Junaedi kepada Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Rabu, 4/2).
Namun demikian, Ari mengingatkan, mendirikan partai politik baru bukan urusan yang mudah. Pendirian parpol baru karena kultus individu yang berlebihan serta tidak ditopang dengan ideologi partai yang kokoh sama saja dengan mendirikan kelompok
fans club yang seumur jagung.
"Begitu tokoh ini tidak terpilih, maka mati pulalah umur partai baru tersebut," timpal Ari Junaedi.
Menurut pengajar Humas Politik di Program Sarjana Universitas Indonesia (UI) ini, relawan Projo hendaknya berpikir dua kali sebelum mendirikan partai baru mengingat ekpektasi publik yang berlebihan saat memilih Jokowi dulu kini mulai memudar seiring lambannya langkah politik Jokowi dalam mengambil keputusan strategis.
"Harus diingat, setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Sulit bagi Jokowi terpilih kembali di 2019 jika menjalankan roda pemerintahan seperti sekarang ini. Kultus individu dalam politik dewasa ini sudah menjadi hal yang usang," beber Ari Junaedi yang juga dosen di Pascasarjana UI dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.
[ysa]
BERITA TERKAIT: