Demikian disampaikan Menteri Koordinator Kemaritiman, Indroyono Susilo, saat bertemu dengan Direktur International Atomic Energy Agency (IAEA), Yukiya Amano, di Jakarta pagi ini (Jumat, 23/1).
Dalam kesempatan ini, Indroyono oleh didampingi Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Wisnubroto, Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Jazi E. Istiyanto dan Duta Besar RI di Austria, Rachmat Budiman.
Dalam kesempatan ini juga, International Atomic Energy Agency (IAEA) dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sepakat untuk meningkatkan kerjasama di bidang riset kelautan.
Yukiya memberikan apresiasi tinggi terhadap kemajuan teknologi nuklir dan aplikasinya di Indonesia. Sehingga pada peringatan HUT IAEA ke-50 pada tahun 2014 lalu, BATAN telah mendapatkan Penghargaan IAEA.
Untuk meningkatkan kerjasama antara IAEA dan Indonesia, telah dijajagi program program kerjasama di bidang riset oseanografi memanfaatkan tenaga nuklir yang akan melibatkan BATAN, IAEA, UNEP dengan dukungan Global Environmental Facility (GEF). Disamping itu, aplikasi pengawetan ikan dengan menggunakan tekonolgi radio isotop segera lebih dimasyarakatkan sehingga dapat meningkatkan nilai jual ikan-ikan produk Indonesia.
"Saat ini ada 10 ahli Indonesia yang bekerja di IAEA dalam jabatan Professional-4 (P-4), yaitu para inspektur tenaga nuklir. Kiranya jumlah tenaga ahli Indonesia yang bekerja di IAEA dapat di tingkatkan di masa depan," demikian Indroyono.
[ysa]
BERITA TERKAIT: