Baik Persija Jakarta selaku tuan rumah, Sriwijaya FC dan Arema Cronus berhak mengklaim titel juara, lantaran memiliki poin yang sama di akhir turnamen, yakni tiga. Sebenarnya, ada sistem lain untuk menentukan juara jika kondisinya seperti di atas (poin sama), yakni dengan menghitung agregat gol. Jika ini hitungannya Sriwijaya yang juara karena menang adu penalti dengan skor lebih banyak.
Tapi, lagi-lagi panitia penyeÂlenggara dibuat pusing, lantaran ketiga tim tak mampu mencetak satu pun gol di waktu normal. Di pertandingan pertama antara PerÂsija kontra Sriwijaya FC, kedua tim sebenarnya menampilkan permainan yang menarik. NaÂmun, karena buruknya penyeleÂsaian akhir dari masing-masing pemain di kedua kubu, skor 0-0 bertahan hingga laga usai. SFC menang 3-5 via adu penalti.
Pertandingan kedua antara SFC melawan Arema Cronus juga berjalan cukup menarik. Tempo cepat yang diperagakan kedua tim kerap menghasilkan peluang-peluang berbahaya. Namun lagi-lagi, penyelesaian akhir menjadi masalah. Skor kembali 0-0, dan Arema keÂluar sebagai pemenang usai menghantam SFC 2-4 di babak tos-tosan.
Jalannya pertandingan paÂmungkas antara Persija kontra Arema juga tak kalah menarik dari dua pertandingan sebelumÂnya. Persija yang sedikit lebih dominan, punya banyak peluÂang, namun gagal memanfaatÂkannya dengan baik. Sementara itu, para penggawa Arema juga tak mampu menembus rapatnya barikade pertahanan Persija, skor kembali buntu, 0-0 di 45 menit terakhir. Persija menang 4-2, juga di babak adu penalti.
Dengan kondisi ini, ketiga tim mencatatkan rekor identik, yakni meraih satu kemenangan via adu penalti, dan kalah juga lewat adu penalti. Poin tiga menjadi milik ketiganya.
Ya ini akan menjadi PR buat terjun di ISL musim 2015. Anak-anak masih belum bisa menyerang secara efektif, sehÂingga lini depan pun kesulitan mendapatkan peluang matang,†jelas pelatih Persija Rachmad Darmawan. ***
BERITA TERKAIT: