Keputusan ini dinilai merupakan cermin sikap pemimpin yang tidak mau mengkhianati agenda reformasi yang sudah disusun dan disepakati stakeholders bangsa untuk membangun masyarakat lebih demokratis dibanding era masa lalu.
"Pusaka Trisakti menilai keputusan SBY dan Partai Demokrat mendukung pilkada langsung bukanlah kemenangan koalisi pendukung Jokowi-JK atas KMP, tapi bermakna lebih dari itu sebagai kemenangan agenda reformasi dan harapan rakyat diatas "kepicikan dan dendam politik" yang tak rasional pasca pilpres kemarin," kata Direktur Eksekutif Pusaka Trisakti, Fahmi Habsyi, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jum'at, 19/9).
Sebelumnya Minggu (14/9) pagi Ketua Pusaka Trisakti melontarkan pernyataan bahwa jika pada akhirnya SBY selaku ketua Partai Demokrat juga ikut-ikutan mendukung penghapusan pilkada langsung akan diartikan publik sebagai sikap politik SBY yang meningalkan jejak kelam dan titik hitam demokrasi diujung karier politiknya selain jejak kelam permasalahan korupsi yang menimpa kader-kadernya. Presiden SBY pun merespon dan tidak terima disebut sebagai penghianat demokrasi. Ia tidak paham alasan sebagian kalangan yang mendorong isu RUU Pilkada kepada dirinya
Bagi kaum muda yang merasakan denyut reformasi 98, lanjut Fahmi, tentu terkejut dengan pernyataan Amien Rais yang menyesal mendukung pilkada langsung. Fahmi mengingat ucapan Amien Rais tahun 1998 dalam sebuah diskusi mengatakan pasca Soeharto lengser kita akan melihat bupati, gubernur hingga presiden lahir dari aspirasi rakyat langsung.
"SBY ternyata lebih reformis dibanding Amien Rais. Pernyataan Amien Rais yang terjebak dalam kegalauan sendiri itu telah menggugurkan predikatnya sebagai tokoh reformasi sekaligus mendegradasi PAN sebagai partai yang konsisten mendukung agenda reformasi secara sepenuh hati," demikian Fahmi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: