Namun, jika kita lihat rekam jejak tim-tim raksasa Eropa sepanjang berjalannya musim baru ini, mayoritas klub-klub besar belum menunjukan konsistensi yang baik. Tercatat, hanya Barcelona dan Chelsea yang mampu tampil konsisten di setiap pertandingan yang telah dilaluinya. Walaupun, beberapa pengamat menyatakan, dua klub tersebut belum bertemu dengan lawan yang sebanding dengannya.
Sebut saja raksasa Spanyol, Real Madrid yang meraih dua kekalahan beruntun dari Real Sociedad dan Atletico Madrid dalam ajang La Liga. Walaupun dalam ajang perdana Liga Champions, Rabu (17/8) dini hari, tim besutan Carlo Anceloti itu mampu menggilas wakil Swiss, FC Basel dengan skor 1-5, namun kemenangan itu belum bisa memanifestasikan bangkitnya El Real sebelum mampu mengulang hasil positif tersebut.
Ada lagi, klub besar Inggris, Arsenal yang setelah menggilas Manchester City 3-0 di ajang Community Shield, malah tiga kali bermain imbang. Terbaru, The Gunners dipermalukan Borussia Dortmund 2-0 di ajang Liga Champions.
Berbeda dengan Manchester United yang dalam hasil terakhirnya berhasil meraih kemenangan 4-0 atas QPR setelah sebelumnya belum pernah menang, namun hasil positif itu belum juga dapat dikatakan bangkitnya MU mengingat Liverpool juga pernah menyabet QPR dengan skor yang sama tapi malah melempem dalam pertandingan berikutnya di Liga.
Dengan demikian, sejatinya kompetisi belum dimulai. Pembelian pemain fantastis yang dilakukan klub-klub besar Eropa masih diperlukan berbagai adaptasi, seperti pola permainan penggawa baru dengan taktik pelatih serta kecocokan karakter tiap pemain dalam satu tim. Sehingga, konsistensi dari performa tim-tim raksasa Eropa dengan taburan pemain bintangnya, mungkin baru dapat kita lihat di pertengahan musim kompetisi.
[azk]
BERITA TERKAIT: