Dalam bertempur melawan sosok itu, ungkap aktivis 98 Haris Rusly, sangat jelas siapa kawan dan siapa lawan. Tentu saja juga jelas sebab melawan sesuatu karena nilai-nilai dan moralitas masih dipegang kuat oleh penguasa dan masyarakat.
Di era revolusi Kemerdekaan, kata Haris beberapa saat lalu (Rabu, 17/9), juga jelas siapa musuhnya. Yaitu penjajah asing yangg datang dengan senjata dan seragam merampok kekayaan dan menindas rakyat.
Sebaliknya dalam kisah Mahabrata, lanjut Haris, adalah melawan sistem nilai yangg telah rusak, bukan semata sosok. Diceritakan Pandawa dan Sri Kresna berperang melawan kerusakan moral, kebohongan, kerakusan dan lain-lain, yangg telah mewabah di dalam diri hampir seluruh raja, pangeran dan sebagian besar rakyat.
"Dalam berperang melawan kerusakan sistem nilai, tak jelas siapa lawan dan siapa kawan. Pandawa bahkan harus berperang melawan Kurawa yang merupakan saudara sepupunya sendiri," ungkap Haris.
Situasi era reformasi saat ini, simpul Haris, persis seperti di kisah Mahabarata, yaitu meluasnya kerusakan sistem nilai di lingkaran utama kekuasaan hingga di tengah masyarakat. Saat ini, Indonesia tidak sedang bertempur melawan "sosok", tapi sedang berperang melawan "sistem" nilai yangg rusak, dari
value system menjadi
price system.
"Musuh kita bahkan tak jelas, sangat dekat dengan diri kita. Bahkan kita dituntut setiap saat berperang melawan diri kita sendiri," demikian Haris.
[ysa]