Benarkah omongan Jokowi ini? Bila benar, maka sejatinya Koalisi Merah Putih itu sangat rapuh, dan di saat yang sama, sebagai politisi, Jokowi dinilai tidak etis dengan mengumbar hal ini. Ada juga yang percaya, pernyataan Jokowi ini sekedar klaim dan menjadi bagian dari manuver dia dalam sebuah perang psikologis yang tak berakhir dengan dibacakan putusan Mahkamah Konstitusi (MK).
Di luar pernyataan Jokowi itu, memang ada banyak orang yang meragukan soliditas Koalisi Merah Putih. Paling tidak, ini karena ada dua alasan. Pertama, karena pikiran dan kehendak elit dalam satu partai juga tidak seragam, dan selalu saja ada pihak yang mengejar kursi kekuasaan. Kedua, tidak ada pengikat yang bisa dirasakan manfaatnya oleh anggota Koalisi Merah Putih selain harga diri belaka.
Dalam kasus Setgab partai koalisi pendukung SBY-Boediono saja misalnya, partai-partai, terutama Golkar dan PKS, begitu liar bermanuver, padahal sudah diikat oleh manfaat kursi menteri. Lebih-lebih bila tidak ada ikatan sama sekali yang bisa saling menguatkan satu sama lain.
Namun demikian, banyak juga yang percaya Koalisi Merah Putih ini akan bertahan. Paling tidak bila merujuk pada kesamaan pandangan dalam melihat persoalan bangsa dan negara. Kesamaan pandangan, yang meski kualitasnya di bawah ideologi yang doktriner, namun bisa menjadi pengikat yang cukup kuat di tengah pertarungan pilpres yang begitu tajam. Lebih-lebih bila kesamaan pandangan ini diberi gula-gula kuasa di tempat lain, meskipun tidak semewah kelas menteri atau duta besar.
Rakyat Merdeka Online tentu tidak sekedar menimbang dua pandangan besar itu belaka, yang juga disampaikan oleh politisi sendiri atau pengamat yang tak menjangkau lebih dalam realitas politik. Karena itu, kami juga mau mendengar pandangan dari para pembaca yang budiman. Silakan, pembaca budiman ikuti polling kami terbaru:
Apakah Koalisi Merah Putih Dapat Bertahan, atau Tidak? [ysa]
BERITA TERKAIT: