Jokowi Memancing Gejolak Bila Tunjuk Luhut Panjaitan Jadi Menko Perekonomian

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Kamis, 28 Agustus 2014, 00:08 WIB
Jokowi Memancing Gejolak Bila Tunjuk Luhut Panjaitan Jadi Menko Perekonomian
luhut panjaitan/net
rmol news logo . Salah satu "muka" pemerintahan Jokowi-JK, apakah akan menunjukkan wajah keberpihakan pada ekonomi kerakyatan atau tidak, akan terlihat dari kursi menteri-menteri ekonomi, terutama Menko Perekonomian.

Posisi Menko Perekonomian ini juga menjadi sangat penting mengingat persoalan ekonomi yang dihadapi pemerintahan Jokowi-JK sangatlah berat. Bukan semata persoalan defisit transaksi maupun investasi yang mandeg, melainkan juga yang kini dirasakan rakyat banyak terkait dengan pembatasan subsidi bahan bakan minyak (BBM).

Di tengah persoalan beban ekonomi ini, nama Luhut Panjaitan disebutkan sebagai salah satu nominator Menko Perekonomian. Jenderal Angkatan Darat yang berkiprah di Partai Golkar ini misalnya disebutkan media asing Reuters bersama dengan sejumlah nama lain yang sudah dikenal sebagai kelompok neoliberal.

Kemunculan nama Luhut ini memicu kontroversi dan polemik, sebagaimana juga nama calon Menko lain yang dinilai neolib, yang bertentangan dengan janji "Trisakti" Jokowi. Luhut memang pernah menjabat Menteri Perdagangan dan Perindustrian di era Presiden Abdurrahman Wahid. Namun pengalamannya di posisi ini tidak meninggalkan kesan yang membanggakan.

Tentu saja juga, pewacanaan nama Luhut pun dinilai banyak orang pendukung Jokowi-JK bertentangan dengan prinsip pemerintahan Jokowi-JK yang mau diisi kabinet oleh profesional dan ahli di bidangnya. Luhut, meski seorang pengusaha, dinilai bukan orang tepat untuk posisi Menko Perekonomian itu, atau dengan kata lain The Right Man on The Wrong Place.

Bila pun Jokowi-JK mau mengucapkan "terima kasih" atas upaya Luhut yang telah mendukungnya selama ini, maka posisi yang cukup tepat untuknya adalah Menko Polhukam atau Menteri Pertahanan. Dengan posisi ini, selain memang cukup sesuai dengan keahliannya, juga tidak akan memicu gejolak di dalam. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA