Dakwah Nasyiatul Aisyiyah Fokus pada Pencerahan Perempuan dan Anak

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Minggu, 24 Agustus 2014, 17:12 WIB
Dakwah Nasyiatul Aisyiyah Fokus pada Pencerahan Perempuan dan Anak
na/net
rmol news logo Organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan keputrian, Nasyiatul Aisyiyah (NA) menyelenggarakan Rapat Pleno Pimpinan ke-V pada Sabtu (24/8) hingga Minggu (25/8). Berbagai topik persoalan perempuan dibahas mulai dari persoalan keagamaan, pendidikan hingga upaya advokasi perempuan dan anak.

“Tema besar yang akan dikembangkan pada pleno kali ini adalah mengenai gerakan pencerahan. Dakwah yang dilakukan oleh Nasyiatul Aisyiyah harus selalu berupaya menjadikan perempuan untuk lebih maju, unggul dan lebih beradab. Karena di dalamnya ada nilai-nilai pembebasan, pemberdayaan, dan memajukan kehidupan,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Normasari Wardana dalam pengantar rapat pleno di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta sebagaimana keterangan tertulis yang diterima redaksi (Minggu, 24/8).

Selain itu, Normasari juga menyoroti persoalan hak pendidikan anak yang perlu digarap lebih serius oleh Nasyiatul Aisyah. Pasalnya, tema dakwah pencerahan, lanjut dia, tidak bisa dilepaskan dari persoalan anak. Memaksimalkan keberadaan cabang dan ranting sebagai pilar gerakan NA dalam menyiapkan pendidikan dasar bagi anak baik berupa pengajian/TPA maupun PAUD menjadi salah satu subyek penting untuk dilakukan.

"Dan sudah menjadi tradisi di Nasyiatul Aisyiyah bahwa pendidikan dasar bagi anak menjadi sebuah kebutuhan khusus guna menyiapkan mereka menjadi generasi penerus yang lebih baik,” ujarnya.

Selain persoalan pendidikan anak, tantangan lain yang dihadapi oleh NA adalah perlunya merespon secara cepat isu-isu mengenai perempuan yang berkembang sekarang. Memperkuat kajian-kajian untuk merumuskan kembali problema kekerasan perempuan di mana akarnya adalah dunia yang tidak ramah terhadap perempuan dan anak itu sendiri, yaitu budaya patriakhi, menjadi mutlak dilakukan. Hal ini merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi keberadaan dan peran NA. Tidak hanya itu, pemberdayaan ekonomi perempuan juga menjadi tema yang dipersiapkan oleh Nasyiah.

“Perempuan itu bisa berdaya, ketika dia tidak memiliki ketergantungan secara ekonomi kepada orang lain, dan Nasyiatul Aisyiyah siap bermitra dengan pihak-pihak yang sejalan baik dengan amal usaha Muhammadiyah dan berbagai kementerian untuk penguatan kemandirian ekonomi bagi pencerahan kehidupan perempuan,” tandas Normasari yang juga berprofesi sebagai dosen hukum Universitas Ahmad Dahlan. [ian]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA