Polisi Tak Punya Dasar Tahan Pendukung Prabowo-Hatta Berlama-lama

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Jumat, 22 Agustus 2014, 09:40 WIB
Polisi Tak Punya Dasar Tahan Pendukung Prabowo-Hatta Berlama-lama
neta s pane/net
rmol news logo . Polda Metro Jaya harus segera melepaskan para pendukung Prabowo-Hatta yang ditahan dalam aksi demo di Patung Kuda Monas Jakarta kemarin. Namun, Polda juga harus memeriksa dan menindak pemilik 3 truk paramiliter Unimog yang dibawa ke lokasi demo.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan, sikap represif memang harus diambil polisi dalam mengendalikan aksi demo para pendukung Prabowo-Hatta. Sebab, dalam melakukan aksinya massa pendukung Prabowo-Hatta juga provokatif dan berpotensi mengancam keamanan. Hal ini ditandai dengan sikap mereka membawa truk paramiliter Unimog sebanyak 3 unit ke lokasi demo.

"Bahkan truk paramiliter tersebut merangsek dan menggilas barikade kawat berduri Polri," ujar Neta dalam keterangan persnya kepada redaksi, Jumat (22/8).

Jelas Neta, dengan dibawanya 3 tiga Unimog yang kemudian bersikap provokatif tersebut, para pendukung Prabowo-Hatta menjadi agresif dan seolah mendapat angin untuk bersikap anarkis. Hal ini ditandai dengan aksi-aksi pelemparan batu yang dilakukan massa ke arah polisi, sehingga membuat polisi melepaskan tembakan water cannon. Kemudian gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan massa, sehingga situasi menjadi kacau. Dalam kekacauan itu, sambung Neta, banyaknya massa yang terluka dan itu menjadi sebuah risiko.

"Polisi pun terluka. Dalam situasi seperti ini, polisi juga bersikap simpati, sejumlah pendulung Prabowo-Hatta yang terluka langsung dibawa ke rumah sakit," ungkap Neta.

Sejauh ini, lanjut Neta, apa yang dilakukan polisi dalam mengendalikan aksi demo tersebut sudah sesuai SOP. Kalau pun ada pihak-pihak yang tidak puas terhadap sikap dan kinerja polisi dalam mengatasi aksi massa tersebut, itu menjadi sebuah risiko yang harus dicermati Polri.

"IPW mendesak Polri segera memeriksa pemilik 3 Unimog yang dibawa ke lokasi demo. Apakah truk paramiliter itu memiliki izin atau tidak. Lalu apa motivasi pemilik membawa truk Unimog tersebut," terang Neta.

Khusus kepada pemilik Unimog yang bercat motif militer, polisi harus menindaknya secara tegas dan memerintahkan segera mengganti warna catnya. Jika unimog tersebut tidak memiliki izin, polisi segera menyitanya dan memproses kasus Unimog ini secara hukum.

"Sedangkan sejumlah para pendukung Prabowo-Hatta yang ditahan polisi sebaiknya segera dibebaskan. Polisi tidak punya dasar hukum untuk berlama-lama menahannya, apalagi memprosesnya secara hukum. Ada pun konflik di depan Patung Kuda itu hanya sebuah dinamika dari penyampaian ekspresi dalam menyikapi sidang MK," imbuhnya.

"Soal tuntutan Fadli Zon (Waketum Gerindra) agar Kapolda Metro dicopot karena sikap represif polisi dalam aksi demo, itu menjadi wewenang Kapolri dan Presiden SBY," sambung Neta S Pane. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA