SYUHADA RAMADHAN

19 Ramadhan, Darah Putera Kabah Bercucuran di Masjid Kufah

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Jumat, 18 Juli 2014, 07:40 WIB
19 Ramadhan, Darah Putera Kabah Bercucuran di Masjid Kufah
ilustrasi/net
rmol news logo . Subuh, 19 Ramadhan tahun 40 Hijriyah.

Hari masih diselimuti gelap dan cahaya separuh bulan usai purnama ibarat redup ditelan kelam. Samar, langit Kufah memerah laksana hendak mengabarkan duka yang tidak terkira. Di kejauhan, kedipan bintang menjadi tanda luka yang dibisikkan masa silam.

Seorang pria berusia 63 tahun dengan tubuh yang terlihat masih gagah, keluar menuju masjid Kufah untuk menunaikan shalat Subuh. Pria yang dimaksud adalah Imam Ali bin Thalib.

Saat Imam Ali memimpin shalat, diam-diam, orang dungu yang diselimuti nafsu menyelinap dari belakang. Si pemburu yang bernama Abdurrahman bin Muljam itu mengendus dan menunggu sampai Imam Ali sujud. Tatkala Imam Ali bangkit dari sujudnya, Abdurrahman bin Muljam menebaskan pedangnya yang beracun tepat di bagian kepala Imam Ali. Darah merah berhamburan.

Ali bin Thalib adalah keponakan sekaligus menantu Rasulullah SAW. Salah seorang pemeluk agama Islam pertama setelah Muhammad SAW menerima wahyu ini adalah suami dari Fatimah Azzahra, dan ayah dari Imam Hasan dan Husein. Dia dikenal sebagai putera Ka'bah karena dilahirkan di dalam Ka'bah.

Sejak kecil, Ali adalah pembela utama Nabi Muhammad dalam menyebarkan dakwah. Di usia yang sangat muda, ia selalu mendampingi Nabi menghadapi segala cacian dan hinaan. Anak-anak remaja yang menghina Nabi dilawannya hingga dia dikenal sebagai sang pembanting.

Saat dewasa, pintu ilmu Rasulullah SAW ini juga adalah salah seorang pembela utama. Dalam setiap pertempuran, Ali selalu menjadi pendekarnya. Dalam peperangan Badar, Ali, bersama Ubaid bin al-Harits dan Hamzah bin Abdul Muththalib memenangkan adu duel melawan Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah dan Walid bin Utbah.

Dalam perang Khaibar, Ali diberi tugas membawa bendera kebesaran untuk menembus benteng pertahanan Yahudi yang sudah melanggar perjanjian. Ali pun berhasil membobol benteng Khaibar, dan memporakporandakan pasukan Yahudi. Ali dikenang sebagai pendekar Khaibar.

"Khaibar khaibar ya Yahud, inna jaisa Muhammad saufa ya'ud." (Ingatlah ingatlah Khaibar wahai Yahudi, sesungguhnya pasukan Muhammad akan kembali). Ini adalah kalimat semangat yang kini selalu dikumandangkan anak-anak Palestina, yang menjadi spirit melawan Yahudi. Kalimat ini juga mengenang kegagahan dan keberanian Imam Ali. 

Sepeninggal Rasulullah SAW, Ali menjadi khalifah keempat menggantikan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab dan Khalifah Usman bin Affan.

Di luar keberanian seorang prajurit dan kecerdasan agung di bawah binaan langsung Rasulullah SAW, sosok yang disebut oleh George Jordac sebagai the voice of human justice ini dikenal dengan akhlaknya yang begitu mulya. Salah satu akhlaknya itu bahkan ditunjukkan kepada orang yang membunuhnya, Abdurrahman bin Muljam.

Setelah menikam Imam Ali, Abdurrahman bin Muljam berusaha melarikan diri. Namun berhasil dibekuk dan diborgol. Ketika Imam Ali melihat wajah bebal itu, dia berkata: "Bukankah aku selalu berbuat baik kepadamu?"

"Iya betul," kata Abdurrahman bin Muljam.

Imam Ali meliriknya, dan melihat jerat yang memborgol tangan si pengecut itu terlalu kencang hingga menyayat dagingnya. Imam Ali lalu mengalihkan pandangan kepada kaum muslim di sekelilingya dan berkata: "Seharusnya kalian jangan begitu kejam kepada sesama, kendorkan talinya, tidakkah kau lihat tali ini melukai dia dan membuatnya kesakitan." [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA