Paling tidak, ini didasari pada dua hal. Andi Arief, tak seperti dikira kubu Jokowi-JK, yang memasukkannya ke dalam bagian dari pasukan senyap Prabowo. Andi Arief pun selalu mengatakan agar semua pihak menerima kemenangan atau kekalahan. Dari sisi ini saja, terlihat netralitas Andi Arief.
Kedua, dorongan Andi Arief yang meminta kubu Prabowo maupun Jokowi untuk siap menerima kekalahan adalah bersumber pada keyakinannya akan nilai-nilai demokrasi yang sudah diperjuangkannya sejak menjadi aktivis mahasiswa.
Sementara penekanan Andi Arief, yang lebih terlihat lebih meminta Jokowi-JK untuk menerima kekalahan, merupakan pesan obyketif. Sebab faktanya memang dari pihak Jokowi-JK belum ada keterangan yang menyatakan akan menerima kekalahan.
Alih-alih siap menerima kakalahan, kubu Jokowi-JK malah sudah terlalu dini menyatakan ada kecurangan bila kekalahan menimpa mereka.
Belakangan, pernyataan Andi Arief semakin menunjukkan netralitasnya. Andi Arief mengatakan total kecamatan di Indonesia ada 6.700 kecamatan. Dengan jumlah ini, gampang bagi tim sukses pasangan calon presiden untuk merekap suara menjadi laporan nasional.
Dengan merekap suara nasional berbasis kecamatan ini, lanjut Andi Arief, kedua kubu seharusnya sudah tau siapa yang menang atau kalah. Kedua pasangan pun tidak perlu menunggu rekap kabupaten dan provinsi. Lebih-lebih, kedua pasangan juga memiliki pasukan untuk merekap suara ini. Kubu Prabowo-Hatta misalnya memiliki saksi yang kuat, sementara kubu Jokowi-JK dibantu oleh situs
kawalpemilu.org dari Singapura.
[ysa]
BERITA TERKAIT: