Namun kegagalan ini dinilai bukan sebagai faktor utama kisruhnya pohon beringin. Dalam artian, selama Aburizal Bakrie dan pengurus Golkar menghormati langkah politik masing-masing kader Golkar untuk mendukung Jokowi-JK, berbeda dengan sikap DPP Golkar yang mendukung Prabowo-Hatta, maka perseteruan tidak akan meruncing dan semua bisa didialogkan.
Apalagi alasan kader muda dan beberapa tokoh senior Golkar juga dinilai masuk akal. Mereka merasa lebih nyaman mendukung Jokowi-JK, yang ada unsur JK-nya yang merupakan mantan Ketua Umum Golkar, dibanding mendukung Prabowo-Hatta, yang keduanya adalah orang luar.
Namun sayang, Aburizal Bakrie Cs memilih jalan yang menciderai proses demokrasi secara umum. Misalnya dengan memecat Nusron Wahid, kader Golkar yang kembali terpilih menjadi anggota DPR RI untuk ketigakalinya dengan suara terbanyak nasional di Golkar. Pemecatan juga ditujukan kepada Agus Gimiwang Kartasasmita, yang juga caleg terpilih dengan suara terbanyak di Jawa Barat. Agus bahkan sudah digeser dari posisi Wakil Ketua Umum I DPR.
Saat ini, banyak yang menyarankan, untuk mendinginkan suasana, tidak ada pilihan lain bagi Aburizal Bakrie Cs kecuali memulihkan nama baik Agus dan Nusron. Pemulihan nama baik kader Golkar yang punya akses dan jaringan luas ini sangat penting. Nusron misalnya merupakan representasi NU di Golkar. Sementara Agus punya akses pada para tokoh senior, lebih-lebih dia adalah putera dari tokoh dengan nama besar di Golkar; Ginanjar Kartasasmita.
Bila kedua sosok ini dipulihkan nama baiknya, bisa jadi kondisi Golkar akan kembali sejuk, dan tidak memanas lagi. Dan yang tak kalah penting adalah bila ternyata pada akhirnya kubu Jokowi-JK yang menang dalam Pilpres. Sebab bila Agus dan Nusron tak dikembalikan nama baiknya, sementara Jokowi-JK yang memenangkan Pilpres, maka tiada ada lagi alasan untuk tidak mengjukirbalikkan keadaan dengan menyerang balik Aburizal dan menggesernya dari kursi ketua umum.
[ysa]
BERITA TERKAIT: