Buenos Aires Rusuh

Orang Berlarian Takut Kena Peluru Nyasar

Selasa, 15 Juli 2014, 09:02 WIB
Buenos Aires Rusuh
ilustrasi
Kecil Besar
rmol news logo Jerman berpesta, Argentina berduka. Saking sedihnya, suporter tim Tango melampiaskannya dengan beraksi anarkis. Di Buenos Aires, polisi anti huru-hara Argentina menembakkan gas air mata dan menyemprotkan air untuk memecah konsentrasi puluhan pemuda yang melemparkan batu.

Para orangtua berpegangan dengan anak-anak mereka berlarian dari monumen ikonis Obelisk di mana puluhan ribu orang berkumpul ketika puluhan pemuda membuat kegaduhan dan mengejek petugas keamanan setempat dan berusaha untuk merobohkan pagar besi di depan sejumlah toko. Mereka berteriak-teriak “Argentina !, Argentina !, Argentina! “ dengan rasa kecewa.

Banyak warga termasuk orangtua dan anak-anaknya melarikan diri karena takut terkena tembakan nyasar dan asap gas air mata.

“Mereka harusnya tidak perlu menyesali kekalahan ini dengan kerusuhan, sebab tim telah bermain dibabak tertinggi di Piala Dunia yakni partai final,” ujar Horacio Laseiras (53), yang saat terjadinya kerusuhan terjebak di jalan bersama putrinya yang berumur enam tahun.

Dalam kerusuhan ini, pihak kepolisian akhirnya bisa memegang kendali. Mereka berhasil membubarkan masa yang berbuat rusuh serta menangkap 40 orang yang diduga provokator. Namun begitu, kerusuhan ini juga telah membuat 15 petugas mengalami luka-luka.

Dari sejumlah foto yang dilansir oleh sejumlah media, para suporter yang ditangkap oleh pihak kepolisian tampak pasrah ketika tangannya diborgol. Pihak kepolisan juga tampak ada yang memukuli  seorang suporter yang tertinggal oleh rombongan.

Sebelumnya, puluhan ribu pendukung memadati kawasan monumen Obelisk mengibarkan bendera negara, berniat untuk melakukan pesta selebrasi jika menang di tanah seteru abadi mereka, Brasil.

Para pendukung menaiki halte dan memanjat tiang lampu seraya menyerukan “Argentina, Argentina” dilatari oleh bunyi ledakan kembang api di atas kepala mereka.

Sebagai negara yang mengalami pertentangan politis dengan kepemimpinan Presiden Cristina Fernandez dan pendahulunya, mendiang suami Fernandez yaitu Nestor Kirchner, timnas sepakbola Argentina adalah pemersatu yang langka.

“Saya merasa bangga sebagai orang Argentina. Memakai kaos ini di hari pertandingan final adalah hal yang tak ternilai,” kata seorang mahasiswa Marcelo Dailoff yang rupanya tidak setuju dengan aksi kerusuhan tersebut.

“Para pemain membawa suka cita kepada Argentina setelah penantian lama. Cukup sederhana, terima kasih,” lanjutnya.

Di Fan Festivak, pendukung Jerman memang terlihat tidak terlalu banyak.

Menurut perwakilan Fans Sepakbola Der Panzer beberapa waktu lalu, ada sekitar 10 ribu orang yang siap datang ke stadion dan sudah pasti di FIFA Fan Festival ini.

Masyarakat Brasil langsung berteriak dan bernyanyi ikut merayakan gol Goetze. Mereka langsung mengejek fans Argentina dengan “Cry! Cry! Argentina!” menirukan lagu yang terkenal itu “Don‚t Cry for me Argentina”. Lalu ada yang berteriak “Terima kasih Tuhan, Jerman yang juara,” demikian teriak salah seorang fans Brasil, Caio.

Mereka semua berpesta seolah telah menjadi Œjuara‚ di Piala Dunia ini. Seandainya Argentina yang juara, sudah dipastikan fans Tim Tango akan terus membuli pendukung Selecao karena berhasil menjadi juara di kandang mereka. ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA