Koalisi Permanen Dipikirkan Nanti Saja Setelah Mengamankan Kemenangan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Selasa, 15 Juli 2014, 10:15 WIB
Koalisi Permanen Dipikirkan Nanti Saja Setelah Mengamankan Kemenangan
ilustrasi/net
rmol news logo . Dalam teori ahli perang Tingkok Tsun Zu disebutkan bahwa dalam posisi lemah harus menunjukkan kekuatan kepada musuh. Pun sebaliknya, dalam posisi kuat, perlu juga menunjukkan lemah.

"Dalam konteks ini, kita perlu melihatnya apakah koalisi permanen Merah Putih itu sedang menempatkan diri dalam posisi kuat atau posisi lemah," kata anggota timses Jokowi-JK, Fahmi Habsyi, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 15/7).

Fahmi menilai koalisi permanen yang dibangung Prabowo-Hatta ini cenderung simptomian atau respon gejala di tengah kekhawatiran kemenangan Jokowi-JK menjadi final dan resmi. Koalisi permanen itu terbentuk atas dasar perhitungan politik meningkatkan posisi tawar salah satu partai besar yang tergabung didalamnya, jika kemudian hari kalkulasi politik harus dihitung ulang dan bergabung dengan pemenang.

"Obama juga mengalami hal sama ketika partai Republik menguasai pimpinan parlemen. Politik itu kan ada seni dan tantangannya. Sejauhmana kita mampu mengkapitalisasi secara baik dan niatnya untuk mensejahterakan rakyat. Ini dunia bung semua bisa didudukkan dan dibicarakan," tandasnya.

Saat ini, ungkap Fahmi, fokus energi seluruh kader partai koalisi dan relawan harus lebih bermanfaat mengamankan kemenangan dan menghadang kecurangan. Sementara koalisi permanen itu bisa dipikirkan setelah tanggal 22 Juli saja.

"Atau pas halal bihalal," demikian Fahmi. [ysa]

  • TAGS

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA