Menteri Olahraga Brasil Aldo ReÂbelo sadar kekalahan negaÂraÂnya dengan skor 1-7 dari Jerman akan meninggalkan luka menÂdaÂlam bagi sepakbola negeri itu. Tapi ia mengatakan itu tak bisa dibanÂdingkan dengan tragedi MaraÂcaÂnaÂzo 1950.
Rebelo menekankan perlunya diadakan pemeriksaan seksama terhadap fasilitas dan metode pelatihan untuk meningkatkan perkembangan pemain muda.
Meski kekalahan telak ini akan diingat dalam waktu lama, dia mengatakan hal ini harusnya jadi katalis untuk evaluasi meÂnyeÂluÂruh pada sepakbola domestik agar lebih sedikit pemain yang meÂÂÂnyeberang ke Eropa dalam usia sangat muda.
“Sikap terbaik yang perlu diÂambil adalah menganalisis peÂnyebab mendasar dan penyebab jangka panjang malapetaka ini,†kata Rebelo.
Sementara legenda Romario geram dengan hasil memalukan yang dituai tim nasional Brasil. Pria yang kini berprofesi sebagai pengacara itu meminta para peÂtinggi Federasi Sepakbola BraÂsil (CBF) dipenjara.
Status tuan rumah tak memÂpermudah langkah Brasil untuk memperpanjang koleksi titel juara Piala Dunia. Dana hingga 11 miliar dolar AS atau sekitar Rp 127,8 triliun pun dinilai menÂjadi sebuah kesia-siaan belaka setÂelah Brasil gagal menjadi kampiun.
Romario berpendapat kegaÂgalan timnas Brasil itu bukan kesalahan para pemain dan baÂrisan pelatih. Tapi para petinggi CBF yang korup dan tak meÂngerÂti sepakbola.
“Sepakbola kami memburuk tahun demi tahun. Ini menjadi buntut dari pemimpin yang bahÂkan tak berbakat untuk mengÂgocek bola,†kata Romario.
“Mereka tinggal dalam kotak mewah, menikmati uang jutaan yang masuk rekening mereka,†jelas pria 48 tahun itu.
Mantan pesepakbola yang tuÂrut mengantarkan Brasil meraih juara Piala Dunia 1994 itu pun meÂminta agar Presiden CBF Jose Maria Marin dan wakilnya, Marco Polo del Nero, menÂdaÂpatÂkan konsekuensi. Penjara meÂnjadi sanksi yang pas untuk presiden dan wakilnya itu.
Romario tak bisa membaÂyangÂkan trofi Piala Dunia akan diÂseÂrahÂkan Presiden Brasil Dilma Rousseff kepada tim nasional lain usai final di Maracana.
“Mereka kan pulang memÂbaÂwa trofi itu dan kami ditinggali staÂdion-stadion yang peraÂwatÂannya bakal memakan banyak dana. Ini menjadi sebuah Piala KeÂkecewaan, bukan Piala DuÂnia,†tegas dia.
Bunuh DiriDi Nepal, seorang remaja putri mengakhiri hidupnya usai menyaksikan Brasil dipermak Jerman. Dia adalah Pragya ThaÂpa, 15 tahun yang tinggal di DisÂtrik Sunsari sekitar 250 mil dari ibukota Kathmandu. Ia diteÂmuÂkan tewas gantung diri di langit-langit rumahnya oleh sang ibu.
Jasad Pragya telah dikirim unÂÂtuk dilakukan otopsi dan keÂpolisian Nepal sudah mengeÂtahui penyebab dia nekat bunuh diri.
“Dia begitu risau untuk meÂnyaksikan Brasil di final, tapi justru Jerman yang lolos,†kata seorang petugas Sharad Thapa.
“Beberapa dari temannya muÂlai mengejek dia karena menÂduÂÂkung Brasil. Keesokan paginya, dia mengambil keputusan nekat deÂngan gantung diri di kamarÂnya.â€
Sebelumnya, seorang pria di Suzhou, China tewas di depan televisi setelah tidak tidur selama beÂberapa hari hanya untuk meÂnyakÂsikan laga-laga di turnamen itu. ***
BERITA TERKAIT: