Kisruh Stakeholders Sepakbola Brasil

Sabtu, 12 Juli 2014, 08:31 WIB
Kisruh Stakeholders Sepakbola Brasil
Aldo Rebelo
Kecil Besar
rmol news logo Kegagalan Neymar cs bu­kan hanya menyesakkan rak­yat Brasil. Stakeholders dan pelaku sepakbola disana pun ikut memanas.

Menteri Olahraga Brasil Aldo Re­belo sadar kekalahan nega­ra­nya dengan skor 1-7 dari Jerman akan meninggalkan luka men­da­lam bagi sepakbola negeri itu. Tapi ia mengatakan itu tak bisa diban­dingkan dengan tragedi Mara­ca­na­zo 1950.

 Rebelo menekankan perlunya diadakan pemeriksaan seksama terhadap fasilitas dan metode pelatihan untuk meningkatkan perkembangan pemain muda.

Meski kekalahan telak ini akan diingat dalam waktu lama, dia mengatakan hal ini harusnya jadi katalis untuk evaluasi me­nye­lu­ruh pada sepakbola domestik agar lebih sedikit pemain yang me­­­nyeberang ke Eropa dalam usia sangat muda.

“Sikap terbaik yang perlu di­ambil adalah menganalisis pe­nyebab mendasar dan penyebab jangka panjang malapetaka ini,” kata Rebelo.

Sementara legenda Romario geram dengan hasil memalukan yang dituai tim nasional Brasil. Pria yang kini berprofesi sebagai pengacara itu meminta para pe­tinggi Federasi Sepakbola Bra­sil (CBF) dipenjara.

Status tuan rumah tak mem­permudah langkah Brasil untuk memperpanjang koleksi titel juara Piala Dunia. Dana hingga 11 miliar dolar AS atau sekitar Rp 127,8 triliun pun dinilai men­jadi sebuah kesia-siaan belaka set­elah Brasil gagal menjadi kampiun.

Romario berpendapat kega­galan timnas Brasil itu bukan kesalahan para pemain dan ba­risan pelatih. Tapi para petinggi CBF yang korup dan tak me­nger­ti sepakbola.

“Sepakbola kami memburuk tahun demi tahun. Ini menjadi buntut dari pemimpin yang bah­kan tak berbakat untuk meng­gocek bola,” kata Romario.

“Mereka tinggal dalam kotak mewah, menikmati uang jutaan yang masuk rekening mereka,” jelas pria 48 tahun itu.

Mantan pesepakbola yang tu­rut mengantarkan Brasil meraih juara Piala Dunia 1994 itu pun me­minta agar Presiden CBF Jose Maria Marin dan wakilnya, Marco Polo del Nero, men­da­pat­kan konsekuensi. Penjara me­njadi sanksi yang pas untuk presiden dan wakilnya itu.

Romario tak bisa memba­yang­kan trofi Piala Dunia akan di­se­rah­kan Presiden Brasil Dilma Rousseff kepada tim nasional lain usai final di Maracana.

“Mereka kan pulang mem­ba­wa trofi itu dan kami ditinggali sta­dion-stadion yang pera­wat­annya bakal memakan banyak dana. Ini menjadi sebuah Piala Ke­kecewaan, bukan Piala Du­nia,” tegas dia.

Bunuh Diri

Di Nepal, seorang remaja putri mengakhiri hidupnya usai menyaksikan Brasil dipermak Jerman. Dia adalah Pragya Tha­pa, 15 tahun yang tinggal di Dis­trik Sunsari sekitar 250 mil dari ibukota Kathmandu. Ia dite­mu­kan tewas gantung diri di langit-langit rumahnya oleh sang ibu.

Jasad Pragya telah dikirim un­­tuk dilakukan otopsi dan ke­polisian Nepal sudah menge­tahui penyebab dia nekat bunuh diri.

“Dia begitu risau untuk me­nyaksikan Brasil di final, tapi justru Jerman yang lolos,” kata seorang petugas Sharad Thapa.

“Beberapa dari temannya mu­lai mengejek dia karena men­du­­kung Brasil. Keesokan paginya, dia mengambil keputusan nekat de­ngan gantung diri di kamar­nya.”

Sebelumnya, seorang pria di Suzhou, China tewas di depan televisi setelah tidak tidur selama be­berapa hari hanya untuk me­nyak­sikan laga-laga di turnamen itu. ***

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA