La Abicelleste, julukan ArÂgenÂtina sangat bernafsu membawa puÂlang gelar juara, setelah 28 taÂhun tidak mencicipi gelar juaÂra di pentas sepakbola seÂjagat. Begitu juga
Der Panzer, juÂlukan Jerman, sudah 24 taÂhun meÂmimpikan tropi terÂseÂbut. Tak heran, keduanya akan bermain dengan semangat yang sangat lapar gelar. Apalagi laga final selalu menjanjikan atÂmosfer yang sakral.
Pemain bertahan Argentina, Javier Mascherano mengÂungÂkapÂkan, reÂsep negaranya untuk meÂngaÂlahÂkan
Der Panzer. Menurutnya, Albiceleste harus bermain komÂpak di semua lini dan pantang bagi MasÂcheÂrano untuk memÂbeÂrikan ruang gerak pada Thomas Muller Cs.
“Jelas, jika anda berÂmain meÂlawan Jerman, anda jaÂngan sampai menyisakan ruang gerak pada mereka. Jika itu terjadi, sulit untuk kami memÂbendung serangÂan mereka,†tuÂtur Mascherano pada
Daily Star.Selain mempersempit ruang geÂÂrak kubu asuhan Joachim Loew tersebut, Mascherano meÂwanÂti timnya agar bermain komÂpak.
“Kami harus bermain rapat. Kami mulai mempelajari perÂmainÂan JerÂman,†tegasnya.
Dia menekankan bahwa Tim Tango tidak akan mengubah gaya permainan kala meÂladeni Der Panzer dan terus menerapkan seÂmangat pantang menyerah seperti yang mereka tunjukkan di laga-laga seÂbelumnya.
“Saya tidak takut kalah. Sama sekali tidak. KaÂmi tahu ini akan jadi sulit karena mereka adalah tim besar, namun kami akan memÂbeÂrikan segalanya seperti yang kami lakuÂkan saat melawan Belanda,†tuturnya.
Senada dengan Mascherano, juÂru gedor Argentina, Sergio ‘Kun’ Aguero menegaskan timÂnya akan berjuang hingga titik darah penghabisan, untuk meÂrengkuh juara dunia ketiga kaliÂnya.
“Kami selalu memÂberikan segalanya dalam pertandingan. MuÂdah-mudahan pada hari MingÂgu (final) kami bisa memÂbeÂrikan yang terbaik. Jerman juga akan khawatir tentang kami (Argentina),†ucap Aguero yang baru bermain di babak kedua saat kontra Belanda.
Jelang laga tersebut, Angel Di Maria sudah mulai berlatih tanpa reÂkan-rekannya di markas ArÂgenÂÂtina, Belo Horizonte, kemaÂrin. BinÂtang Real Madrid ini meÂleÂÂwatkan laga semifinal konÂtra BeÂÂlanda, karena cedera hamstring.
Di Maria kini dikejar waktu supaya dapat pulih total dan beraksi di final melawan Jerman. Menurut kabar yang diwartakan
Daily Mail, pemain sayap berumur 26 taÂhun ini terlihat berlatih bersama fisioterapis timnas Argentina. SeÂmentara itu, kompatriotnya menÂjalani latihan ringan dan berÂmain laga uji coba.
Sementara di kubu Jerman, peÂlatih Joachim Loew melaÂkukan persiapan di pantai Atlantic yang berÂada tepat di depan Campo Bahia. Campo Bahia merupakan temÂpat pemusatan latihan selama mengikuti Piala Dunia 2014. DaÂlam masa persiapan jelang laga fiÂnal, pelatih yang akrab diÂpangÂgil Jogi ini melakukan proteksi terhadap anak asuhnya dengan menggelar latihan tertutup.
Seperti dilansir media Jerman,
Bild de, latihan tertutup ini dilaÂkuÂkan supaya taktik dan strategi yang diterapkan di final tidak diÂketahui lawan. Supaya konÂsenÂtrasi pemain hanya tertuju keÂpada pertandingan final, maka Philipp Lahm Cs dilarang mengÂhaÂdiri sesi jumpa pers atau meÂlayani permintaan wawancara.
Selain itu, proteksi yang berÂsiÂfat pribadi juga dilakoni Loew. Istri dan kekasih (Wags) tidak boleh mendampingi para pemain sampai berakhirnya perÂtanÂdingÂan final. Selain itu, pemain juga dilarang mengkonsumsi minumÂan beralkohol.
Loew juga meminta Benedikt Howedes untuk mengawal perÂgeÂrakan penyerang Argentina Lionel Messi dalam pertanÂdingan final nanti. Pemain berÂpoÂsisi di bek kanan tersebut seÂbeÂlumnya berhasil mengÂhenÂtikan laju Cristiano Ronaldo, seÂwaktu Jerman mengalahkan PorÂtugal 4-0 di laga perdana. “Messi adalah pemain fantastis, satu dari pemain terbaik dunia, sama seperti Cristiano Ronaldo. Kami harus bermain kolektif mengÂatasi Messi karena dia tidak bisa diÂhentikan dalam duel satu meÂlawan satu,†tutur Howedes.
“Ketika kami bermain kolektif bahkan pemain hebat seperti Messi akan kesulitan menembus lini pertahanan. Jika kita dapat bertahan sebagai sebuah tim, kami akan membendung dia,†katanya.
Miroslav Klose yang menjadi saksi hidup saat Jerman kalah pada partai final Piala Dunia 2002 dari Brasil tak ingin mengÂulangi kegagalan serupa pada tahun ini. Klose ingin membayar kegagalan itu dengan mengincar gelar juara Piala Dunia di Brasil.
“Kami menikmati pertandingan melawan Brasil tapi segera berpaling setelah 24 jam. Pada pertandingan berikutnya, kami harus kembali menampilkan yang terbaik kemampuan kami. RasaÂnya benar-benar mengeÂrikan saat kalah di final, jadi saatÂnya kami untuk memeÂnangÂkan yang satu ini,†ujar striker asal Lazio itu.
Ini bukan kali pertama, juara dunia tiga kali, bertanding mengÂhadapi Argentina. Di turnamen Piala Dunia, partai final di EsÂtadio Maracana akan menjadi perÂtemuan ketujuh, di mana JerÂman unggul dengan empat kali menang, satu kali seri, dan satu kali kalah. Pertemuan terakhir terÂjadi pada empat tahun lalu di Afrika Selatan. Der Panser meÂnang dengan skor 4-0 di peremÂpatÂfinal.
Seperti diketahui, pertemuan JerÂman dan Argentina partai ulang final Piala Dunia 1986 dan 1990. Pada final Piala Dunia 1986 di Meksiko, Tim Tango, juÂlukan Argentina sukses mengaÂlahkan Jerman dengan skor 3-2. Saat itu, Argentina masih diÂperÂkuat Diego Armando Maradona semÂpat unggul 2-0 terlebih daÂhulu lewat gol Brown (23) dan ValÂdano (55). Namun, Jerman mampu mengejar lewat gol Karl Heinz Rummenige (74) dan Rudi Voller (80). Tapi sebuah umÂpan jitu dari Maradona untuk Burruchaga mengubur ambisi JerÂman. Argentina keluar seÂbaÂgai juara.
Empat tahun berselang, giliÂrang Jerman membalas kekaÂlahÂan atas Argentina dengan skor tipis 1-0. Sayangnya, laga yang diÂgelar di Stadion Olimpico itu dinilai sebagian kalangan adalah partai final Piala Dunia terburuk yang pernah ada. Anggapan ini lantaran kedua tim bermain deÂfenÂsif dan kedua tim cenÂderung beÂrmain kasar. ***
BERITA TERKAIT: