Deklarasi ini diawali dengan pembacaan teks Sumpah Pemuda, yang diikuti Sumpah Mahasiswa. Dalam sumpah itu mereka berkomitmen untuk menjaga kerukunan, keharmonisan, perdamaian, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka juga menolak kekerasan segala bentuk kekerasan, radikalisme, separatisme, serta apapun yang mengancam kehidupan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebelum deklarasi yang digelar pada Rabu lalu itu (2/7), mereka menggelar acara Interfaith Dialogue dan Cultural Day 2014. Dialog ini bertemakan "Revitalisasi Nilai-Nilai Kebhinekaan dalam Mewujudkan Harmoni Bangsa."
Dialog tersebut mengangkat konsep multikulturalisme sebagai penguat integrasi bangsa, sekaligus landasan utama dalam menciptakan perdamaian, kerukunan, dan persatuan, demi mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hadir sebagai narasumber, antara lain Rektor IAIN Medan Nur Ahmad Fadhil Lubis, Direktur Ma’arif Insitute Ahmad Fuad Fanani, Dosen FISIP UIN Armien Daulay, dan Perwakilan Yayasan Pondok Kasih Surabaya Samuel Lengke.
Dalam kesempatan ini, Ahmad Lubis menjelaskan budaya itu bukan sekadar sesuatu yang bersifat material. Namun bersifat immaterial, tak tersentuh fisik, melainkan ada di dalam diri kita sesuai lingkungan darimana kita berasal.
Sementara Fuad Fanani menyoroti kaitan antara budaya dengan Islam. Menurutnya, percampuran budaya di Indonesia menghasilkan agama mayoritas yaitu Islam sebagaimana adanya sekarang. Dan itu memiliki makna toleransi sebagai kebhinekaan nusantara.
[ysa]
BERITA TERKAIT: