Nigeria menang 1-0 atas Bosnia di Arena Pantanal, Cuiaba, Minggu (23/6) pagi WIB. Hasil itu sekaligus menyingkirkan Bosnia sekaligus membuat Nigeria kian dekat ke babak 16 besar.
Bosnia pun berang sebab O’Leary menganulir gol dari Edin Dzeko ke gawang Nigeria di menit ke-21. Saat itu wasit Selandia Baru yang juga berprofesi sebagai guru biologi SMP tersebut mendukung keputusan hakim garis Mark Rule yang mengangkat bendera tanda offside—kendatipun tayangan ulang memperlihatkan Dzeko dalam posisi yang sah untuk bikin gol.
“Kami akan pulang, kami sedih, tapi wasit mestinya juga pulang. Karena ia sudah mengubah hasil, ia mengubah permainan, dan itulah kenapa kami kalah. Wasitnya memalukan untuk kompetisi (sebesar) ini,†ujar striker Edin Dzeko.
Situasi lantas bertambah “panas†setelah munculnya sebuah foto yang memperlihatkan kiper Nigeria Vincent Enyeama sedang dirangkul wasit O’Leary yang tampak seperti sedang tertawa lebar, tepat setelah pertandingan usai.
O’Leary pun ramai dituding sudah ikut merayakan kemenangan Nigeria tersebut.
Pada prosesnya muncul pula petisi online yang meminta agar Peter O’ Leary dipecat dari posisinya sebagai wasit dan mengubah hasil Nigeria lawan Bosnia menjadi 1-1 di change.org. Sejauh ini petisi tersebut sudah mendapatkan sekitar 23.094 tanda tangan.
“Apa penjelasan untuk ini? @fifamedia?@bosnia,†tulis account @Tim_Roehn. “Foto yang aneh, wasit merayakan kemenangan bersama pemain Nigeria usai membuat keputusan buruk,†tulis account resmi media Inggris, Telegraph Football.
Rasisme Meluas“Say No To Racism†nampaknya baru sekadar kata-kata indah di spanduk. Buktinya di Brasil 2014, aksi rasisme kian meluas. Wartawan olahraga Hibah Wahl mencontohkan dua suporter Argentina, akhir pekan lalu, ditangkap karena melakukan gestur monyet kepada suporter Brasil di stadion Maracana.
“Ini sangat mengejutkan masih banyaknya sikap rasisme. Rasisme terjadi di hadapan publik, khususnya di ajang sepak bola Eropa,†kata Wahl.
Ditambahkan, penggemar Meksiko juga diduga meneriakkan kalimat penghinaan “gay†yang ditujukan pada kiper tim lawan.
Seperti halnya aksi rasisme yang terjadi beberapa waktu lalu, terdapat spanduk Nazi yang dikibarkan di tribun. Lalu, ketika pemain berkulit hitam memasuki arena pertandingan, penonton melemparnya dengan pisang.
“Kami mendengar nyanyian rasis, dan kita telah melihat pemain keluar lapangan dan menanggapi nyanyian rasis mereka,†tulis Wahl.
Pengalaman terintimidasi juga dialami Ris Ahmed, seorang aktor muslim dari Inggris saat menonton The Three Lions melawan Uruguay.
Di stadion, suporter Inggris malah menyuruh Ahmed diam saat dia ikut menyanyikan yel-yel dukungan kepada Wayne Rooney cs.
“Saya berada di Stadion Sao Paulo ikut menyanyikan lagu-lagu dukungan kepada tim negara saya. Namun ada dua duka saat itu. Pertama saya mendapat perlakuan rasis, kedua saya jadi tidak bisa menyanyikan dukungan untuk Inggris,†kicau aktor Reluctant Fundamentalist ini.
Striker Italia Mario Ballotelli juga menjadi korban rasis suporter negara pizza itu saat menjalani latihan untuk Piala Dunia bulan lalu. Sebelumnya, pemain AC Milan itu dilempari pisang oleh suporter fanatik lainnya.
Organisasi Fare Network, kelompok kampanye antidiskriminasi mengaku telah menghubungi FIFA mengenai empat insiden rasis atau homofobik di laga Piala Dunia 2014 termasuk laga antara Meksiko dan Kamerun, Jumat (13/6).
Pada pertandingan itu, Peralta menjadi penyelamat Meksiko dengan mencetak satu-satunya gol di laga tersebut. Rafael Marquez dkk menang tipis atas Kamerun dengan skor 1-0.
Fare telah memperingatkan FIFA terkait perilaku rasis yang dilakukan para penonton soal penggunaan kata ŒPuto‚-berarti pelacur laki-laki- yang diumbar para fans Los Tricolores di Arena das Dunas, Natal.
Fare Network juga menduga terjadi diskriminasi oleh fans Brazil, Rusia, dan Kroasia dalam seminggu terakhir.
“Kelompok Fare melihat adanya spanduk atau bendera yang menampilkan simbol sayap kanan dibawa oleh para pendukung Kroasia dan Rusia,†ucap Direktur Eksekutif FARE, Piara Powar.
Petinggi Eksekutif FIFA berulang kali menilai, sanksi berupa denda tak membuat efek jera. Pasalnya, FIFA telah mengeluarkan aturan pengurangan poin dan juga denda pada tim dengan fans ofensif.
Seperti salah satu pemain Amerika, Maurice Edu, yang menjadi sasaran rasisme secara online oleh fan timnya sendiri saat bermain di Eropa, benar-benar menunjukkan sikap skeptis. “Uang denda sebanyak apapun tak akan menghentikan sikap rasis. Mereka membayar denda, tapi dua minggu kemudian, masalah yang sama terjadi lagi,†kata Edu.
Tahun lalu, FIFA memberikan satu sanksi yang memberatkan tim Bulgaria, Hungaria, Ukraina dan Peru. Mereka dipaksa bermain di stadion kosong yang tidak ada penggemarnya, tidak ada penjualan tiket.
Sayangnya, April lalu, Presiden FIFA Sepp Blatter menentang penutupan stadion sebagai hukuman bagi suporter klub yang rasis. Ia mendesak asosiasi sepak bola untuk memotong poin klub atau tim tersebut sebagai gantinya. ***
BERITA TERKAIT: