Lagu Kebangsaan Gagal Berkumandang

FIFA Ngaku Salah­

Rabu, 18 Juni 2014, 08:52 WIB
Lagu Kebangsaan Gagal Berkumandang
ilustrasi
Kecil Besar
rmol news logo Meski telat, FIFA akhirnya meminta maaf terkait insiden me­malukan dalam laga pe­nyi­sihan Grup E antara Prancis kon­tra Honduras, Minggu (15/6) di­ni hari WIB. Dalam duel di Es­tadio Beira-Rio tersebut, lagu ke­bangsaan kedua tim gagal ber­kumandang.

Pemain-pemain Prancis meli­hat ke kiri dan kanan karena lagu kebangsaan mereka tak kunjung keluar di sistem audio stadion. Begitu juga para pemain Hon­duras. Setelah menunggu bebe­ra­pa saat, akhirnya kedua tim me­lanjutkan berjabat tangan tan­pa mendengar lagu kebangsaan mereka.

“Saya ingin mengucapkan per­mintaan maaf yang paling men­dalam atas nama FIFA terkait in­siden teknis gagalnya lagu ke­bang­saan Prancis dan Honduras berkumandang di Porto Alegre. Itu merupakan protokol antara tim nasional yang dilaksanakan atas nama FIFA,” tulis Sekretaris Jenderal FIFA, Jerome Valcke.

Valcke menambahkan, rasa hor­mat merupakan bagian pen­ting dari protokol FIFA. Inves­ti­gasi terkait masalah ini akan di­lakukan.

Dalam peraturan pertandi­ng­an, seluruh pertandingan sepak­bola internasional dan persaha­batan memang diharuskan FIFA untuk mengumandangkan lagu kebangsaan.

Tidak ingin ketinggalan, akhir­nya suporter Prancis berinisiatif menyanyikan lagu kebangsaan mereka, La Marseillaise, pada me­nit ke-17. Atmosfir ini mam­pu menghidupkan permainan Prancis yang sukses menang 3-0 atas Honduras.

Kiper sekaligus kapten tim Perancis, Hugo Loris mengata­kan, tidak didengungkannya lagu kebangsaan telah menurun­kan moral bertanding kedua tim saat laga berlangsung.

“Entah itu pejabat, atau para official (yang menyebabkan lagu tidak diputar), yang jelas kami yang terkena dampaknya dan itu sa­ngat disayangkan,” kata Lloris.

Tak kalah kecewa dari Pe­rancis, adalah gelandang Hon­du­ras, Roger Espinoza.

“Teknologi yang mereka (panitia penyeleng­ga­ra) miliki tidak berfungsi. Sa­ngat mengecewakan kami, kare­na banyak di antara pemain kami yang baru pertama kali berlaga di kompetisi ini,” kata Espinoza.

Barra Brava Merangsek

Kemenangan Argentina 2-1 atas Bosnia di laga perdana Grup F, membuat semakin banyak fans garis keras Argentina, Barra Brava yang berupaya masuk ke Brasil.

Menurut laporan intelijen se­tempat, Barra Brava akan me­nyam­bangi kota Belo Horizonte dan sekitarnya pada 21 Juni. Ke­datangan fans rusuh ini berde­katan dengan kedatangan hooli­gan Ing­gris yang akan menyak­sikan timnya bermain lawan Kos­ta Rika, pada pertandingan pe­nyisihan Grup D 24 Juni men­datang.

 Tentu, keadaan ini akan mem­buat pihak keamanan di Brasil melakukan pengamanan ekstra ketat, mengingat track record hooligan yang buruk.

“Kami bisa memantau kelom­pok yang memiliki sejarah keke­ra­san. Sebelum laga kedua ne­gara, kami akan melakukan pe­ng­ama­nan sebaik mungkin. Ter­ma­suk untuk semua pertandi­ngan,” ung­kap Kepala Polisi Be­lo Horizonte, Col. Alberto Luiz Alves.

Dari hasil razia, kepolisian suk­ses menangkap empat warga ne­gara Argentina yang terindi­ka­si memiliki hubungan dengan Bar­ra Brava.

Warga tadi berusaha memasu­ki Brasil melalui darat, di kota ke­cil Uruguaiana di negara ba­gi­an Rio Grande do Sul, perba­tasan Brasil Selatan, Senin (16/6).

“Dua di antara mereka terma­suk di dalam daftar panjang peng­gemar sepakbola pembuat ru­suh. Data tersebut memang di­sediakan oleh Pemerintah Ar­gen­tina, guna mencegah masuk­nya penggemar pembuat rusuh selama Piala Dunia,” ujar Alves.

Selain itu, seorang warga ne­gara Amerika Serikat juga tak di­perkenankan memasuki Brasil pe­kan sebelumnya karena alasan yang sama.

“Tapi kami hanya akan tahu beberapa penggemar yang ber­bahaya jika mereka masuk me­lalui udara dan dalam kasus Bar­ra Bra­va, sebagian besar akan ti­ba lewat daratan. Ini akan sa­ngat sulit untuk melacak mereka,” lanjut Alves.

Pembeli Tiket Terbanyak

Sampai kemarin, di luar fans Brasil, animo suporter terbanyak dalam hal pembelian tiket ter­catat milik fans Amerika. Seba­gai tuan rumah, Brasil, yang kali terakhir mengelar Piala Dunia pa­da 1950, menjadi negara deng­an jumlah pembeli tiket terba­nyak dengan 1.363.179 kursi atau sekitar 60 persen dari per­tan­dingan-per­tandingan turna­men yang digelar di 12 kota itu. AS mengikuti di posisi dua di­iku­ti oleh Argentina di posisi tiga.

Total ada 196.838 kursi yang diisi oleh para penggemar sepak­bola yang berdomisili di AS. Fak­ta ini boleh jadi memberi in­di­kasi bahwa sepakbola kian di­lirik di Negeri Paman Sam, ken­datipun faktor geografis bisa saja ikut memberikan faktor.

Sedangkan Argentina, negara rival Brasil di Amerika Selatan, menempati posisi tiga dengan 61.021 tiket. Suporter Jerman telah membeli 58.778 tiket dan fans Inggris di posisi lima dengan 57.917 tiket.

Setelah itu ada suporter Ko­lom­bia dengan 54.477 tiket, di­iku­ti Australia dengan 52.289 ti­ket, dan 38.638 tiket yang dibeli oleh fans dari Chile. Mengge­nap­kan sepuluh besar, ada Pran­cis dengan 34.865 tiket dan Mek­siko dengan 33.694 tiket. Demikian di­laporkan Forbes dengan me­ngu­tip data dari FIFA. ***

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA