Benzema 2 Gol, Teknologi 1 Gol

Wasit Sandro Ricci, Tayangan Replay & Giant Screen Stadion Sempat Tak ‘Seiya-Sekata’

Selasa, 17 Juni 2014, 10:08 WIB
Benzema 2 Gol, Teknologi 1 Gol
Karim Benzema
Kecil Besar
rmol news logo Laga Prancis versus Honduras dinihari kemarin yang berakhir 3-0 memunculkan dua headline. Pertama,  kegemilangan Karim Benzema. Kedua, debut Goal Line Technology atau teknologi garis gawang.

Lewat gelontoran dua golnya, Benzema mengantarkan Prancis sementara memuncaki Grup E. Striker Real Madrid ini juga mengakhiri puasa gol Prancis di laga perdana Piala Dunia sejak 1998.

Sebenarnya Benzema bisa dibilang mencetak hattrick, karena gol kedua Prancis, bola sepakannya mengenai tiang, lalu mengenai tubuh kiper Honduras, Noel Valladares. Akan tetapi, gol tersebut dicatat sebagai gol bunuh diri.

“Saya menendang bola dan membentur tiang lalu mengenai kiper. Saya melihat bola sudah melewati garis gawang. Saya tidak tahu apakah sepakbola sudah memiliki teknologi yang baik soal garis gawang, tapi yang terpenting kami telah memenangkan pertandingan,” ujar Benzema.

Nah proses gol kedua ini yang memicu kegelisahan ribuan suporter di stadion dan kubu Honduras. Pasalnya wasit Sandro Ricci, tayangan replay dan analisa teknologi garis gawang yang ditampilkan di giant screen stadion, sempat tidak ‘seiya-sekata’‚ dalam memastikan sah-tidaknya gol tersebut.

Di pinggir lapangan, pelatih Didier Deschamps dan arsitek Honduras, Luis Suarez berdebat mengenai gol itu.

“Teknologi garis gawang merupakan hal yang bagus. Wasit mendapatkan sinyal dan bisa memutuskan berdasarkan hal tersebut,” nilai Deschamps, usai laga.

“Namun tayangan ulang di layar memperlihatkan sesuatu yang sulit orang mengerti. Ini memperlihatkan momen pertama di mana bola terlihat tidak masuk.

 Saya mengerti kenapa pelatih Honduras gugup. Gambar yang diperlihatkan kepada semua orang seharusnya membantu wasit dalam mengambil keputusan dan membuatnya menjadi jelas untuk semua penonton yang datang, tapi sepertinya tidak.”

Suarez pun menjelaskan kebingungan yang dirasakan kubunya dan suporter Honduras.

“Saya tidak kecewa karena gol diberikan, tapi karena keputusan itu tidak dikeluarkan sejak pertama kali,” sesal Suarez.

“Keputusan kedua mengesahkan gol tersebut, sedangkan yang pertama wasit tidak menganggap itu sebuah gol. Jika mesin menyatakan satu hal pertama dan kemudian berpindah pendapat lagi, kemudian apakah itu sebuah kebenaran?” sambungnya.

Brasil 2014 menjadi Piala Dunia pertama di mana FIFA menggunakan teknologi garis gawang. Peralatan tersebut dipakai FIFA demi menghindari terjadinya gol-gol siluman atau meminimalkan kontroversi pada momen di mana bola sulit diketahui apakan sudah melewati garis gawang atau belum.

Kembali tak mempersoalkan hasil, kubu Prancis dan Honduras juga menyatakan kekecewaan kepada panitia penyelenggara lantaran lagu kebangsaan kedua Negara tidak diperdengarkan.

“Teknologi yang mereka (panitia) miliki tidak berfungsi. Sangat mengecewakan kami, karena banyak di antara pemain kami yang baru pertama kali berlaga di kompetisi ini,” sesal gelandang Honduras, Roger Espinoza.

“Dan tidak dapat menyanyikan lagu kebangsaan Anda membuat kami tidak memiliki motivasi yang cukup untuk bertanding.”

Senada dengan kiper dan kapten Les Blues Hugo LIoris. Meski bijak, ia memaklumi kalau para pemain kecewa.

“Itu adalah sebuah masalah yang bisa terjadi kapanpun, tetapi itu sangat mengecewakan. Karena ketika Anda bermain di kompetisi seperti Piala Dunia akan sangat penting untuk dapat mendengar lagu kebangsaan Anda. Tetapi kami (pemain dan wasit) tidak terlibat dalam hal ini,”ucap Lloris.

Kalah Menyakitkan

Masih di Grup E. Ekuador mengalami kekalahan menyakitkan dalam pertandingan perdana mereka. Sempat unggul lebih dulu, mereka malah akibat gol pemain super sub Swiss di masa injury time. Di Estadio Nacional Mane Garrincha, Brasilia, Ekuador mampu mencetak gol lewat sundulan Enner Valencia di menit 22, yang bertahan hingga turun minum. Di paruh kedua laga, Ekuador gagal mempertahankan keunggulan usai Swiss mampu mencetak gol di menit 48 lewat Admir Mehmedi. Antonio Valencia dkk. akhirnya kalah 1-2 di menit-menit akhir pertandingan setelah Haris Seferovic mencetak gol saat pertandingan memasuki menit 90+3.

Bagi pelatih Ekuador Reinaldo Rueda, hasil tersebut tidak adil karena dia menilai bahwa kedua tim bermain seimbang dan permainan berjalan sengit.

Berdasarkan statistik, Swiss unggul tipis penguasaan bola sebesar 55 persen. Begitupun dengan jumlah tembakan tepat sasaran, Swiss mencatatkan lima kali berbanding Ekuador yang membukukan satu sepakn lebih sedikit.

“Saya percaya tadi pertandingan yang sangat sengit, seimbang, dengan dua tim yang sama-sama punya penampilan bagus. Menurutku, inilah sepakbola,” kata Rueda.

“Mungkin hasil pertandingan tadi sedikit tidak adil bagi kami. Kami bermain dengan semangat yang sama, tapi harus mengalami kekalahan pertama. Kami masih punya dua laga ketat berikutnya.”

Meski sudah menang, striker Swiss Josip Drmic kecewa golnya dianulir oleh wasit lantaran dianggap dalam posisi offside.

“Gol dianulir? Untuk saya itu bukan offside. Bola datang mengenai kaki lawan saya rasa. Saya mendapatkan peluang untuk membalikan badan dan mencetak gol. Itu adalah gol untuk saya,” ujar Drmic.

“Tapi saya barus menerima keputusan wasit dan melihat masa depan. Terpenting adalah kami berhasil meraih kemenangan,” lanjut penyerang Bayer Leverkusen ini.

Menurut Drmic, tim asuhan Ottmar Hitzfeld itu memperlihatkan respek berlebih kepada Ekuador di awal pertandingan, sehingga La Tri berhasil unggul di awal pertandingan. Beruntung La Nati, berhasil membalikan skor di babak kedua.

“Kami memperbaiki penampilan setelah gol Ekuador itu. Kami mendominasi, menciptakan peluang dan bereaksi dengan baik. Ini merupakan hasil akhir yang bahagia untuk kami, di mana kami mampu mencetak dua gol setelah istirahat,” sambungnya. ***
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA