“Bagaimana perasaan Anda jika seseorang mengambil foto Anda sedang telanjang?†ujar pelatih Vatreni, Nico Kovac dalam jumpa pers di Praia do Forte.
“Mereka bersikeras tak mau bicara lagi kepada Anda sekalian. Saya tak tahu apakah aksi bungkam ini akan berakhir besok atau bertahan sampai akhir Piala Dunia.â€
Di foto, tampak jelas badan bek tengah Southampton Dejan Lovren dan mantan bek Manchester City yang kini membela Lokomotiv Moskow, Vedran Corluka.
“Saya menghormati opini para pemain dan saya juga tahu Anda semua sudah bersikap profesional sebelumnya, tapi Anda mengacaukannya dengan kejadian ini. Seluruh dunia sudah melihat foto-foto itu,†sergah Kovac.
“Mudah saja untuk saya membicarakannya karena saya bukan bagian dari kisah ini. Saya menghormati opini mereka. Apa yang bisa saya lakukan? Saya tak bisa menjewer mereka dan bilang, 'Ayo bicara ke media'.â€
Usai mengalami kekalahan kontroversial 3-1 dari Brasil, Vatreni akan bersiap melakoni laga Grup A selanjutnya kontra Kamerun, untuk itu Kovac bersikeras menegaskan bahwa dirinya serta anggota tim menolak untuk berbicara kepada media.
“Saya tidak bisa memaksa mereka untuk menuruti kehendak Anda (media) setelah apa yang telah Anda lakukan terhadap mereka,†kecam eks pemain ini.
Bergejolak LagiSetelah sempat surut, demo menentang penggunaan dana berlebih di Piala Dunia masih terus berlangsung. Yang teranyar bahkan berakhir dengan bentrokan, tak jauh dari Stadion Maracana Rio De Janeiro tempat laga Argentina-Bosnia Herzegovina berlangsung, kemarin pagi.
Sky Sports melaporkan sekitar 200 pendemo yang mengenakan topeng berarak-arak menuju stadion. Polisi anti huru-hara lantas menghadang mereka karena tak ingin kerumunan pendemo makin mendekat ke stadion, yang saat itu tinggal berjarak 1,5 km.
Untuk menghentikan laju pendemo, polisi melepaskan gas air mata dan granat kejut. Bahkan menurut Sky Sports plus beberapa media lain seperti Guardian dan Fox, tampak salah seorang polisi mengarahkan pistol ke para pendemo. Petugas ini kemudian sempat menembakkan pistolnya ke udara dua kali dan terekam oleh kamera video Associated Press.
Tindakan arogan dan kekerasan dari pihak kepolisian ini bukannya membuat para pendemo jera. Mereka justru makin bersemangat melanjutkan aksi.
“Kita malam ini melihat kebrutalan yang sama yang telah kita lihat selama setahun ke belakang dari polisi. Dan itulah sebabnya kita harus terus melakukan protes,†kata Karen Rodrigues, mahasiswa yang ikut berdemo.
Sementara itu, juru bicara Sekretariat Keamanan Rio de Janeiro Pedro Dantas menyatakan akan segera melakukan penyelidikan terkait video penembakan tersebut. Dantas juga menyatakan bahwa polisi anti huru juga mendapatkan serangan dari pemrotes, kendati tak menyatakan berapa orang polisi yang terluka.
Adapun Minggu kemarin, Presiden Brasil Dilma Rousseff mendesak semua kolega dan warga negaranya, untuk memisahkan sepak bola dan politik. Dia meminta pula dukungan untuk tim Piala Dunia mereka alih-alih semata menyuarakan keluhan politik karena, menurut dia, sepak bola melampaui politik.
Rousseff, mantan gerilyawan sayap kiri yang dipenjara dan disiksa di bawah kediktatoran militer pada 1964-1985, ingat bahwa dia berada di penjara ketika Brasil memenangi gelar ketiga Piala Dunia pada 1970.
“Pada saat itu, ada segmen (masyarakat) yang mengatakan, 'Jika Anda mendukung (tim) Brasil maka Anda memperkuat kediktatoran',†ujar Rousseff mengomentari sebuah artikel yang terbit pada Minggu. “(Pernyataan) ini adalah omong kosong. Bagi saya, dilema tak pernah ada.â€
Meskipun jajak pendapat menunjukkan kemungkinan besar dia akan terpilih kembali dalam pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2014, Rousseff mendapat hujan cemooh oleh para penyuka bola Brasil saat menonton laga pembukaan Piala Dunia 2014 antara Brasil dan Kroasia di Sao Paulo.
Namun, Rousseff menanggapi cemoohan itu dengan mengatakan bahwa dia tak akan terintimidasi penghinaan. Dalam artikelnya untuk web portal berita Piala Dunia 2014, Rousseff mengingatkan warga Brasil tentang capaian negara ini sejak 1970.
“(Saat itu) kita hidup di bawah kediktatoran, tanpa ada hak untuk berdemonstrasi (dan) membuat gerakan perlawanan politik, hak untuk berbeda pendapat dalam pandangan politik," tulis Rousseff. “(Saat itu) ada penyiksaan, penganiayaan, dan penindasan. Tapi tidak ada pertanyaan tentang (dukungan bagi timnas Brasil) itu,†tegas dia.
“Saya dan teman satu sel saya tak pernah punya keraguan tentang itu dan selalu mendukung Brasil, karena sepak bola di atas politik,†imbuh Rousseff. “Kemarin dan hari ini dan selamanya, orang-orang Brasil mencintai tim nasional yang merupakan representasi dari kebangsaan kita. Ia (sepak bola) ada di atas gubernur, partai politik, dan kelompok kepentingan apa pun.â€
Persiapan yang lambat dan bahkan kacau untuk penyelenggaraan Piala Dunia 2014, ditambah total biaya yang mencapai 11 miliar dollar AS atau lebih dari Rp 127 triliun, memicu kemarahan publik Brasil. Demonstrasi pun sudah terjadi di seantero Brasil. ***
BERITA TERKAIT: