Denny JA: Debat Kedua Prabowo dan Jokowi Tak Berdampak Elektoral

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Senin, 16 Juni 2014, 11:29 WIB
Denny JA: Debat Kedua Prabowo dan Jokowi Tak Berdampak Elektoral
denny ja/net
rmol news logo . Dalam debat kedua capres Minggu malam tadi (15/6), Prabowo menang di gaya tapi lemah di data. Gaya bicara, menjawab dan bertanya Prabowo lebih meyakinkan, terutama bagi pemilih yang tak terlalu mengerti detail substansi debat.

Namun bagi para ahli yang mengerti substansi dan data, kata Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, terasa debat Prabowo banyak bolongnya. Prabowo, misalnya, berulang-ulang mengutip data Ketua KPK Abrahama Samad yang menyebut kebocoran anggaran sebesar Rp 7.200 triliun.

Bagi Denny JA, data itu pastilah salah. Sebab total anggaran Indonesia hanya sekitar Rp 9400 triliun, dan tak masuk akal bila kebocorannya hingga Rp 7.200 triliun. Singkat kata, mustahil anggaran di negara yang paling korup sekalipun, anggaran negara dikorup di atas 75 persen.

"Tentu sebagai politisi, kita tak berharap Prabowo ahli soal data sebagaimana akademisi. Prabowo memang bukan peneliti. Namun untuk panggung sepenting debat presiden, calon pemimpin tak boleh salah menyebut data. Lebih baik ia tak usah menyebut data," kata Denny JA dalam akun twitter-nya @DennyJA_WORLD (Senin, 16/6).

Menurut Denny, seorang pemimpin, walau minimal, harus mengembangkan common sense yang kuat. Dan faktanya, bukan kali ini saja Prabowo salah menyebutkan data. Dalam debat presiden sebelumnya, ia juga salah menyebut jumlah kabupaten/kota.

"Prabowo sebut jumlah kabupaten/kota itu 500. Padahal cukup ketik di google search saja, kita tahu jumlah yang benar adalah 511," ungkap Denny JA, yang selama ini juga sangat konsen dengan perjuangan Indonesia tanpa diskriminasi.

Prabowo, lanjut Denny, memang kuat di abstraksi dan visi besar, namun lemah di detail. Dan dalam dua debat presiden, menunjukkan karakter Prabowo itu. Sebaliknya Jokowi lemah dalam gaya bicara, karena memang bukan bukan singa podium. Jokowi terbiasa banyak kerja sedikit bicara.

Denny JA menyimpulkan, bila dilihat sekedar dari sisi gaya, maka Jokowi memang kalah dalam debat semalam. Namun bila dinilai substansinya, Jokowi menang atas Prabowo. Substansi Jokowi lebih banyak bersandar pada yang mikro dan pengalaman di pemerintahan, dengan menyatakan apa yang sudah dilakukan. Jokowi pun terkesan lebih berorientasi praktis dan mikro, yang memang substansi itu tidak dinyatakan dalam bahasa yang memikat.

Dalam studi debat presiden, masih kata Dennu JA, Prabowo lebih diuntungkan. Untuk pemilih umum yang mayoritas, pemilih lebih terkesan oleh gaya daripada substansi. Sementara itu, hanya sekelompok ahli yang minoritas yang lebih menilai substansi, dan pemilih ini lebih melihat kesahihan informasi dan gagasan.

"Sebagaimana debat presiden pertama, di debat ini tak ada yang menang dan kalah mutlak. Debat ini tak berdampak elektoral yang besar. Berdasarkan data LSI sebelum debat, selisih Jokowi dan Prabowo kini hanya 6 persen saja. Debat tidak mengubahnya. Yang akan mengubah dukungan adalah serangan udara dan darat tiga pekan ini," demikian Jokowi. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA