Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID), Jajat Nurjaman. Menurut Jajat, pernyataan dan rencana ini pun semakin menyudutkan posisi Jokowi mengingat selama ini peran Jusuf Kalla justru yang lebih dominan.
"Malah sebaliknya keraguan akan integritas kepemimpinan Jokowi akan tercoreng oleh ulah timses sendiri," kata Jajat dalam keterangan kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 14/6).
Jajat mengingatkan, menjelang masa pemilihan presiden yang sudah semakin dekat, sebaiknya wacana-wacana yang bersifat miring seperti itu tidak perlu di gulirkan ke publik. Momen seperti ini justru seharusnya lebih menonjolkan kelebihan dari masing-masing calon sehingga masyarakat dapat menilai layakkah orang tersebut untuk memimpin negara ini.
Jajat menambahkan, wacana penggabungan kantor ini sebenarnya bukan merupakan ide yang baru. Pada 2009 Jusuf Kalla sendiri pernah mengatakan jika rencana tersebut memang sudah menjadi rencananya sewaktu menjabat Wakil Presiden 2004. Namun, saat itu karena permasalahan keamanan jadi batal dilaksanakan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: