Untuk event Piala Dunia, selama bertahun-tahun FIFA mempercayakan kualitas bola pada Adidas. Setiap empat tahunnya, merek produk olahraga dari Jerman itu biasanya melimpahkan proyek pembuatan bola kepada negara-negara yang dipercayanya. Indonesia cukup beruntung, pada Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang, negara kita dipercaya Adidas untuk membuat bola dengan nama Fevernova yang akan digunakan pada laga Piala Dunia waktu itu.
Pada Piala Dunia kali ini di Brasil, Adidas mempercayakan Pakistan sebagi tempat pembuatan bolanya. Bola yang diberi nama Brazuca itu dikerjakan oleh hampir seluruhnya pekerja wanita.
Tapi, yang memicu protes publik sepak bola dunia adalah, harga bola yang sangat mahal tak sebanding dengan upah pekerja bola tersebut. Jelas, bola yang dihargai sekitar Rp1,6 juta per-buah itu sangat jomplang dengan upah para pekerja yang diberi gaji hanya Rp1 juta saja per-bulan. Padahal, tangan-tangan perempuan itu menjahit sekitar sepuluh bola untuk satu orang per-harinya.
Kecaman terhadap ketidak adilan tersebut mulai ramai di twitter. Twit dari akun @FIFAWorldCupTM berbunyi, “sangatlah menjijikan dan tak manusiawi, Bola dengan harga 160$, namun upah pekerjanya hanya 100$ per-bulan.†Sontak twit yang diposting pada hari Jum’at (6/6) tersebut, langsung direspon 12ribu publik sepak bola, yang hampir semuanya turut mengecam fakta tersebut. Twit tersebut difavoritkan sebanyak 2825 orang, dan di retwetkan sebanyak 3128 pengguna twitter.
[sam]
BERITA TERKAIT: