"Tidak ada kejutan untuk rakyat siapa yang akan dipilih menjadi cawapresnya (Jokowi)," ujar pengamat Psikologi Politik Universitas Indonesia Dewi Haroen kepada wartawan di Jakarta, Selasa (20/5).
Ia mengatakan bahwa pengusungan Ketua Palang Merah Indonesia itu telah diprediksi dan menjadi pembicaraan sejak lama. Sehingga, yang terlihat adalah mengapa pengambilan keputusan yang sederhana seperti itu memerlukan waktu yang begitu lama.
Terlebih, lanjut dia, Jokowi tidak sama sekali tidak menyampaikan visi dan misinya selama lima tahun mendatang saat mendaftarkan diri di Komisi Pemilihan Umum. Sehingga menimbulkan impresi kurangnya kepemimpinan yang dimiliki oleh capres PDIP itu.
"Jokowi tampak tenggelam oleh kharisma JK, terlihat Jokowi kurang percaya diri," imbuh Dewi.
Kondisi itu berbeda dengan deklarasi Prabowo-Hatta lantaran terdapat kejutan bagi masyarakat dimana kejutan terbesar adalah bergabungnya Partai Golkar pada saat-saat terakhir. Selain itu, acara deklarasi itu dilakukan dengan meriah dan khidmad, serta seluruh pimpinan partai pendukung memiliki kesempatan berbicara yang sama.
"Prabowo bisa menyampaikan pidato yang menggelegar dan memukau, menyampaikan visi misinya yang jelas. Prabowo terlihat PD dengan dukungan yang mengalir kepadanya, khususnya dari poros partai islam dan ketua NU serta Golkar di menit terakhir," demikian Dewi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: