Kesalahan dalam memilih pasangan bisa berakibat fatal dan membuyarkan impian.
Salah satu yang perlu diperhatikan elit PDIP dan Jokowi dengan ekstra sungguh-sungguh adalah basis dukungan riil bakal cawapres.
"Jokowi harus benar-benar didampingi tokoh yang bisa menambah basis dukungan Jokowi dan PDIP, bukan sebaliknya yang akan menggerus," kata peneliti Lingkar Studi Perjuangan, Gede Sandra.
"Jangan tergoda dengan tokoh yang dikesankan memiliki dukungan luas, tetapi ternyata tidak," kata dia lagi.
Menurutnya, segelintir elit PDIP saat ini tengah memaksakan Jusuf Kalla sebagai pasangan Jokowi dengan pertimbangan JK memiliki basis dukungan yang besar yang bisa menambah kekuatan pasangan itu di arena pilpres.
Pandangan ini, sebut Gede Sandra, jelas keliru dan menyesatkan. JK, sebutnya, memang memiliki popularitas yang lumayan. Tetapi bukan untuk elektabilas.
"Tentu banyak yang mengenalnya, karena ia pernah lima tahun jadi wakil presiden, dan beberapa tahun jadi menteri. Tetapi keterkenalan tidak begitu saja berbanding lurus dengan keterpilihan. Buktinya, JK kalah total di arena pemilihan presiden 2009.
Mengapa popularitas JK tidak berbanding lurus dengan keterpilihannya?
Kata Gede Sandra lagi, JK dikenal karena kontroversinya. Baik karena kebijakannya yang dinilai kerap menambah kesulitan rakyat kecil, juga karena "keberaniannya" menerobos dan berseberangan dengan atasan.
[dem]
BERITA TERKAIT: