"Jika tanggal 14 Mei mendatang PAN memastikan dukungan terhadap Prabowo, maka sisa suara yang ada masih dimungkinkan terjadinya poros koalisi baru. Asalkan Demokrat cepat mengambil inisiatif untuk merangkul partai-partai yang tersisa seperti PKS, Hanura, Golkar, PBB," kata pengamat politik, Ari Junaedi, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 12/5).
Bagi dosen S2 Komunikasi Politik di Universitas Persada Indonesia (UPI YAI) dan Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya ini, kans dan peluang partai besutan Presiden SBY menjadi kian menipis jika PKS memastikan bergabung ke Prabowo dan Golkar merapat ke Jokowi. Dan dalam kondisi yang kian mepet seiring pembukaan pendaftaran pasangan capres-cawapres oleh KPU pada tanggal 18 Mei mendatang, SBY harusnya memastikan segera apakah Demokrat memilih bergabung dengan koalisi yang ada, membentuk koalisi baru ataukah menempuh jalur oposisi.
"Jangan sampai ketika hasil konvensi Demokrat diumumkan, hanya tersisa PBB saja karena Golkar, PKS dan Hanura sudah memilih haluan koalisinya. Akibatnya konvensi menjadi mubazir karena calon presiden yang dihasilkan hanya menjadi bahan tertawaan masyarakat," kata Ari, yang juga meraih pernghargaan World Customs Organization Sertificate of Merit 2014 karena pola pengajaran komunikasinya yang sangat inspiratif.
"Ataukah memang capres yang dihasilkan konvensi Demokrat akhirnya diproyeksikan menjadi presiden partai oposisi ?" demikian Ari.
[ysa]
BERITA TERKAIT: