"Jadi, secara formal Golkar akan bergabung dengan Partai Gerindra untuk mengusung Prabowo, tetapi pada praktiknya nanti Golkar secara diam-diam akan ikut menyukseskan pasangan Jokowi-JK," ungkap Direktur Eksekutif Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma), Said Salahuddin, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 12/5).
Skenario main dua kaki ini, ungkap Said, karena dua alasan. Pertama, sebagai jalan keluar atas posisi sulit partai itu mengusung ARB, dan Golkar sendiri sadar bahwa mereka mengalami kendala untuk menjual ARB, baik sebagai capres maupun cawapres. Di saat yang sama, Golkar juga tahu betul bahwa PDI-P dan Gerindra tidak berminat untuk menjadikan ARB sebagai cawapres Jokowi dan Prabowo.
Alasan kedua, lanjut Said, adalah karena model politik oportunis semacam itu memberi peluang lebih besar kepada Golkar untuk tetap bisa masuk dalam kekuasaan, siapapun pemenang Pilpres. Apalagi skenario itu telah teruji efektif dan sukses menghantarkan Golkar masuk ke dalam pemerintahan pada Pilpres 2004.
"Saat itu secara resmi Golkar mengusung Wiranto-Salahudin Wahid, tetapi diam-diam mereka mendukung SBY-JK," demikian Said.
[ysa]
BERITA TERKAIT: