Gubernur Papua: Menjadi Presiden Itu Tidak Mudah

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Minggu, 11 Mei 2014, 21:07 WIB
Gubernur Papua: Menjadi Presiden Itu Tidak Mudah
lukas enembe/net
rmol news logo Menjadi presiden itu tidak mudah. Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang bijaksana, yang mau berbuat sesuatu yang terbaik bagi rakyatnya karena pemimpin itu adalah amanah.  

Menjadi Presiden juga tidak mungkin bekerja sendiri, dibutuhkan orang hebat yang tidak memandang dari sisi latar belakang, hubungan keluarga. Yang pasti dibutuhkan kerjasama semua komponen bangsa untuk pembangunan bersama.

Demikian diungkapkan Gubernur Papua, Lukas Enembe, dua hari lalu (Kamis, 7/5). Lukas Enembe menjelaskan hal itu terkait pertanyaan wartawan tentang dirinya yang masuk salah satu dari 21 tokoh bangsa berintegritas yang diusulkan oleh Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), AM Putut Prabantoro, pada pekan lalu.
 
Selain Gubernur Papua, tokoh lain yang disebut sebagai Tokoh Berintegritas adalah; Didik Heru Purnomo (mantan Kasum TNI), Suryo Prabowo (mantan Kasum TNI), Oegroseno (mantan Wakapolri), Yunianto Sudriman Yogasara (mantan DanseskoAU), Basuki Tjahja Purnama (Wakil Gubernur DKI), R Priyono (mantan Kepala BPMigas), H. Abdul Kholiq Arif (Bupati Wonosobo), Ridwan Kamil (Walikota Bandung), Teras Narang (Gubernur Kalteng), Ganjar Pranowo (Gubernur Jateng), Herman Sutrisno (Mantan Bupati Banjar), La Tinro La Tunrung (Bupati Enrekang)
Yusuf Wally (Bupati Keerom, Papua).

Lalu, KH Maman Imanulhaq (Pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan, Majalengka), Bima Aria (Walikota Bogor), Rizma (Walikota Surabaya), Suyoto (Bupati Bojonegoro), Hugua (Bupati Wakatobi), Abdullah Azwar Anas (Bupati Bayuwangi), dan Ignatius Jonan (Dirut PTKAI).
 
Menurut Enembe, diperlukan cara pandang yang berbeda dalam menata Indonesia mengingat multi perbedaan ada dalam seluruh dimensi kehidupan Indonesia. Multi perbedaan itu harus dipersatukan meskipun tetap menghormati perbedaan dengan cara pandang pluralis. Pemimpin Indonesia harus melihat secara utuh dari Sabang sampai Merauke yang bervisi memajukan Indonesia dengan integritas yang tinggi dan senantiasa luwes dalam perubahan tinggi di berbagai aspek.
 
"Oleh karena itu, jika saya Presiden, mencintai rakya dan negara Indonesia dengan sungguh-sungguh adalah dasar utama dalam mengabdi Indonesia. Dalam melaksanakan tugas, pemimpin harus tegas mengingat perubahan dunia yang begitu cepat, di mana antar negara hampir tak berbatas yang tidak dapat dihindari oleh setiap negara akibat dari revolusi teknologi informasi dan komunikasi," ujarnya.
 
Untuk itu, dijelaskan lebih lanjut, sebuh negara membutuhkan karakter yang jelas jika tidak ingin digilas oleh bangsa lain. Dan untuk membentuk bangsa yang berkarakter dibutuhkan pemimpin yang tegas dan penegakkan hukum tanpa pandang bulu.  Kedua faktor ini merupakan suatu keharusan agar bangsa terlindungi dari dampak revolusi teknologi informasi.
 
Gubernur Papua merasa guasar melihat kenyataan bahwa anak muda atau generasi sekarang tidak memiliki ideologi dan cara pandang yang sangat jauh dari apa yang pernah dibangun oleh para pemimpin bangsa. Generasi muda Indonesia sekarang memiliki cara pandangnya sendiri terhadap negara dan sejarah bangsa.
 
"Pembangunan karakter bangsa termasuk didalamnya adalah mengajarkan nilai-nilai yang diwarisi pemimpin bangsa dahulu dengan menjaga nilai-nilai budaya. Warisan luhur itu harus disadari oleh generasi muda sebagai nilai-nilai abadi yang harus dijaga. Dengan kesadaran sebagai penjagi nilai-nilai luhur pendiri bangsa, generasi muda harus dibekali karakter yang tak terpengaruh perubahan," paparnya.

Oleh karena itu, Lukas Enembe menegaskan bahwa, syarat membangun bangsa Indonesia tidak boleh melihat unsur mayoritas versus minoritas dalam segi kehidupan termasuk di dalamnya suku, agama, ras dll.  Indonesia harus dibangun berdasarkan  ideologi serta falsafah bersama hidup sebagai suatu bangsa dan juga disatukan dengan keinginan kuat hidup bersama.

"Indonesia membutuhkan orang yang memiliki komitmen kebangsaan yang jelas dan kemauan yang tegas mempersatukan Indonesia dalam lingkaran keberagaman. Ia harus juga punya hati untuk membawa keluar rakyat Indonesia dari 4K (kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan memiliki keteladanan}," ujar Lukas Enembe yang mengaku kaget dipilih sebagai tokoh berintegritas.[dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA