"Namun di tangan Fadli Zon, puisi telah menjadi alat perang orang per orang," kata Wakil Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, beberapa saat lalu (Kamis, 17/4). Pernyataan Hasto ini menyikapi puisi "Raisopopo" yang ditulis oleh Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, yang diyakini sebagai bentuk serangan pada Jokowi.
Di belahan dunia yang lain, puisi atau sastra tampil untuk membersihkan politik yang mulai kotor. Namun di tangan Fadli Zon, puisi menjadi alat legitimasi politik yang kotor itu. Maka Hasto pun teringat dengan pandangan psikolog yang mengatakan bahwa perilaku seseorang akan dipengaruhi lingkaran sosial terdekatnya. Seseorang, misalnya, akan menggemari peperangan dan akan cenderung menjadikan segala sesuatunya sebagai alat perang, bila bergaul dengan orang yang suka perang.
"Sebaliknya, seseorang yang berada di lingkungan yang menghormati keindahan alam, akan cenderung memiliki sikap welas asih terhadap seluruh alam ciptaan," ungkap Hasto, sambil mengatakan puisi Fadli Zon merupakan pemaksaan kaidah sastra untuk keperluan perang hingga bukan saja mengacaukan logika namun juga memutarbalikan fakta.
"
Aku Raisopopo seharusnya menjadi ungkapan kejujuran seorang pemimpin bahwa tanpa rakyat, pemimpin memang tidak bisa apa-apa. Demikian halnya dalam wayang. Wayang merupakan potret dan ritual kehidupan. Di dalamnya ada sengkuni yang sukanya mengadu domba orang. Di dalamnya ada Duryudana, yang menyukai keangkaramurkaan, menghalalkan berbagai macam cara untuk melanggengkan kekuasaan, termasuk penculikan," jelasnya.
PDI Perjuangan, lanjut Hasto, tetap berkeyakinan bahwa dalam strategi pemenangan pemilu yang terbaik hanyalah bergerak satu arah dengan memenangkan hati nurani rakyat. Karena itulah PDI Perjuangan lebih memilih membuat puisi kehidupan untuk menggelorakan kembali semangat perjuangan rakyat dalam melawan berbagai bentuk ketidakadilan.
"Menjadi manusia yang sejati adalah manusia yang memiliki kerendahan hati sehingga sikapnya tidak menyombongkan diri. Dengan sikap itu, meski dia merasa tidak bisa apa-apa, dengan rakyat kenyataannya menjadi bisa melakukan segalanya," imbuhnya, sambil menekankan bahwa memang manusia sejatinya adalah seseorang yang tidak punya apa-apa, tidak bisa apa-apa, dan bukan siapa-siapa atau dengan kata lain, manusia hanyalah wayang yang digerakkan Sang Dalang, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
[ysa]
BERITA TERKAIT: