Bahkan bisa jadi, JK akan menyandera Jokowi dan mempersulit pemerintahan. Tak tertutup kemungkinan juga, Jokowi dan JK akan malah sibuk berkonflik karena sikap JK yang cepat dalam bekerja dan mengambil keputusan.
"Jusuf Kalla suka
nyelonong, suka bikin matahari kembar. (Beda dengan Ahok yang juga bekerja cepat), dia (JK) suka pamer diri ke orang luar bahwa dia hebat. Itu akan jadi masalah," kata pengamat politik, Arbi Sanit, saat dihubungi wartawan di Jakarta (Selasa, 1/4).
Arbi memberi contoh saat SBY berduet dengan JK di periode 2004-2009 lalu. Saat itu, SBY banyak tersandera oleh JK. Apalagi bila JK menjadi cawapres, kuat dugaan ia akan menjadi Ketua Umum Golkar lagi, dan Golkar lagi-lagi akan banyak mengontrol pemerintahan. Tentu saja ini juga membuka konflik antara Golkar dan PDI Perjuangan sehingga pemerintahan tersendat.
Arbi sendiri menilai, saat ini ada banyak para profesional muda yang memiliki kemampuan me-manage masalah birokrasi dan pemerintahan yang lebih cocok untuk Jokowi.
Berdasarkan survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS), JK dinilai cawapres ideal untuk Jokowi, dengan elektabilitas 15,2 persen. Lalu menyusul cawapres ideal Jokowi, Wiranto dengan elektabilitas 15,1 persen, Basuki Tjahaja Purnama dengan elektabilitas 11,3 persen, dan Hatta Radjasa dengan elektabailitas 6 persen.
Sementara itu, pengamat politik Arizka Warganegara menilai pendamping Jokowi yang pas adalah dari kalangan parpol berbasis Islam. Dan berdasarkan survei Indo Barometer yang bekerjasama dengan Lembaga Psikologi Politik (LPP) Universitas Indonesia, tokoh partai Islam yang bisa menjadi calon wakil presiden pendamping Jokowi yang paling potensial adalah Hatta Rjasa dengan elektabilitas sebesar 16,0 persen, disusul oleh Muhaimin Iskandar (6,2), Yusril Ihza Mahendra (3,7), Suryadharma Ali (2,9), dan Anis Matta (0,9).
Survei tersebut juga membuat simulasi pasangan capres-pawapres, dan hasilnya Pasangan Jokowi-Hatta unggul 34,3 persen dibandingkan Prabowo-Pramono Edhie 15,4 persen. Disusul pasangan ARB-Muhaimin 12,7 persen, dan Wiranto-Hary 10,3 persen.
[ysa]
BERITA TERKAIT: