Pemilih Tak Mau Punya Presiden Pemarah Seperti Prabowo!

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Selasa, 25 Maret 2014, 07:14 WIB
Pemilih Tak Mau Punya Presiden Pemarah Seperti Prabowo<i>!</i>
prabowo subianto/net
rmol news logo . Sikap emosional Prabowo Subianto saat kampanye terbuka dan diduga sebagai sindiran kepada Jokowi, dengan menyebut pemimpin Boneka, dipastikan tidak akan mendapatkan simpati publik. Apalagi Indonesia ke depan membutuhkan pemimpin yang tidak emosional.

"Kestabilan emosi pemimpin bisa terlihat dari caranya dia berkomunikasi. Dengan Indonesia yang majemuk, butuh kesabaran pemimpin dalam  mengemong rakyatnya. Apa jadinya kita punya presiden pemarah?" kata pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 25/3).

Ari pun mengacu pada hasil penilaian para gurubesar perguruan tinggi se-Indonesia soal calon pemimpin nasional yang dirilis Pool Tracking. Para gurubesar itu menempatkan Jusuf Kalla dan Jokowi dengan peringkat teratas, yang di antara penilainnya juga pada tingkat emosional. Sementara Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie berada di luar lima besar hasil penilaian para gurubesar dari berbagai disiplin ilmu itu.

Ari Junaedi melihat hasil penilaian para guru besar tersebut memberikan paradigma baru penilaian capres mendatang. Penilaian tersebut makin memperkaya selera pemilih di pilpres mendatang. Hasil penilaian para gurubesar tersebut menunjukkan aspek emosional para kandidat menjadi salah satu penilaian utama.

Masih kata Ari, yang juga pengajar Program Pascasarjana UI, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Dr Soetomo Surabaya dan Universitas Persada Indonesia YAI Jakarta, tidak selalu persoalan Indonesia harus dihadapi dengan gaya komunikasi temperamental. Ada kalanya Indonesia butuh komunikasi solutif, dan bukan sekedar komunikasi gertak sambal.

"Menurut saya, cara-cara yang ditampilkan Prabowo jauh dari kaidah komunikasi solutif. Lebih banyak marahnya ketimbang komunikasi yang mensejukkan. Padahal pemimpin butuh kestabilan emosi dan hal ini bisa dijadikan patokan pemilih untuk menentukan calon presidennya," imbuh peraih penghargaan World Customs Organization Sertificate of Merit 2014 karena pola pengajaran ilmu komunikasinya yang inspiratif. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA