"Kestabilan emosi pemimpin bisa terlihat dari caranya dia berkomunikasi. Dengan Indonesia yang majemuk, butuh kesabaran pemimpin dalam mengemong rakyatnya. Apa jadinya kita punya presiden pemarah?" kata pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 25/3).
Ari pun mengacu pada hasil penilaian para gurubesar perguruan tinggi se-Indonesia soal calon pemimpin nasional yang dirilis Pool Tracking. Para gurubesar itu menempatkan Jusuf Kalla dan Jokowi dengan peringkat teratas, yang di antara penilainnya juga pada tingkat emosional. Sementara Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie berada di luar lima besar hasil penilaian para gurubesar dari berbagai disiplin ilmu itu.
Ari Junaedi melihat hasil penilaian para guru besar tersebut memberikan paradigma baru penilaian capres mendatang. Penilaian tersebut makin memperkaya selera pemilih di pilpres mendatang. Hasil penilaian para gurubesar tersebut menunjukkan aspek emosional para kandidat menjadi salah satu penilaian utama.
Masih kata Ari, yang juga pengajar Program Pascasarjana UI, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Dr Soetomo Surabaya dan Universitas Persada Indonesia YAI Jakarta, tidak selalu persoalan Indonesia harus dihadapi dengan gaya komunikasi temperamental. Ada kalanya Indonesia butuh komunikasi solutif, dan bukan sekedar komunikasi gertak sambal.
"Menurut saya, cara-cara yang ditampilkan Prabowo jauh dari kaidah komunikasi solutif. Lebih banyak marahnya ketimbang komunikasi yang mensejukkan. Padahal pemimpin butuh kestabilan emosi dan hal ini bisa dijadikan patokan pemilih untuk menentukan calon presidennya," imbuh peraih penghargaan World Customs Organization Sertificate of Merit 2014 karena pola pengajaran ilmu komunikasinya yang inspiratif.
[ysa]
BERITA TERKAIT: