Kritik itu, kata Direktur Eksektuif Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma), Said Salahuddin, adalah cara bagi mereka untuk menunjukan adanya perbedaan mereka dengan parpol dan capres yang lain. Berdasarkan kritik itulah pemilih dapat mengindentifikasi perbedaan-perbedaan di antara parpol atau para capres guna dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk memilih.
"Namun kritik yang disampaikan haruslah disertai dengan data dan fakta," kata Said Salahuddin kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 25/3)
Sepanjang kritik itu dapat dipertanggungjawabkan, lanjut Sahid, maka tidak serta merta bisa dikatakan bahwa parpol atau capres yang melempar kritik tersebut telah melakukan
black campaign terhadap pesaing politiknya.
"Kritik itu kan ciri negara demokrasi, sehingga tidak boleh dibatasi apalagi dilarang-larang," demikian Said.
[ysa]
BERITA TERKAIT: