"Sesungguhnya kearifan lokal merupakan kekuatan bangsa. Bahkan, disebut pula sebagai kekayaan bangsa dalam mendukung proses pembangunan," ujar Hatta kepada wartawan, Minggu (2/2).
Menteri Koordinator Perekonomian itu mengatakan, bangsa ini boleh menjadi modern dan sejajar dengan bangsa lain, tapi kearifan lokalnya harus tetap dipelihara.
Kepeduliannya terhadap kearifan lokal bukan semata wacana. Tiap acara partai, Hatta selalu menampilkan budaya lokal setempat. Ia pribadi meski berdarah Palembang sebetulnya penyuka wayang yang notabene identik dengan budaya Jawa. Bahkan ia mengaku hafal betul tokoh-tokoh wayang beserta karakternya.
"Saya menyukai wayang sejak masih kanak-kanak. Kalau seandainya ada kesempatan, saya sangat berharap bisa menjadi salah satu pelakon dalam wayang orang. Saya ingin merasakan dan menjiwai karakter idola saya, Arjuna," tutur Hatta.
Menurut Hatta, Arjuna memiliki karakter yang mulia, berjiwa ksatria, imannya kuat, tahan terhadap godaan duniawi, gagah berani dan selalu berhasil merebut kejayaan, sehingga diberi julukan 'Dananjaya'. Musuh seperti apapun selalu berhasil ditaklukkan, sehingga ia mendapat julukan 'Parantapa' atau penakluk musuh.
Arjuna sendiri merupakan ksatria ketiga dalam silsilah Pandawa. Sosok yang halus, kuat dan selalu membela yang lemah.
Dalam mitologi Hindu dan dunia pewayangan Jawa, tutur Hatta lebih lanjut, Arjuna dikenal sebagai tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabrata. Ada banyak filosofi di balik parasnya yang tampan dan budi pekertinya yang lembut. Dalam perjuangan menegakkan kebenaran, Arjuna dikenal dekat dengan Kresna, yaitu Awatara penjelmaan Batara Wisnu yang diutus para dewa untuk menyelamatkan dunia dari kejahatan.
"Dalam bahasa Sansekerta, secara harfiah Arjuna berarti bersinar terang, putih, bersih. Arjuna juga bermakna jujur di dalam wajah dan pikiran," tambah Hatta.
Selain sosok Arjuna, masih kata Hatta, banyak sekali nilai kearifan lokal yang dapat dipetik dari kisah pewayangan, terutama bagi generasi muda yang diterjang krisis moral.
"Misalnya, penokohan Pandawa sangat kaya dengan nilai keteladanan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari," imbuhnya.
Hatta melanjutkan, Yudhistira atau Puntadewa, sulung Pandawa juga merupakan cerminan karakter yang bijaksana, jujur dan teguh pendirian. Karena sifatnya, Yudhistira senantiasa dijadikan pemimpin dalam perang. Bima, sebagai sosok Pandawa paling kuat yang memiliki semangat tinggi, pemberani dan pantang menyerah. Ketika berperang, Bima atau Warkudara memiliki kebesaran hati untuk tidak membunuh musuhnya yang dalam kondisi mengaku kalah
.[wid]
BERITA TERKAIT: